Maria Elisa Hospita
21 Februari 2018•Update: 22 Februari 2018
Burcu Arik
ISTANBUL
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa pengungsi Rohingya yang menyeberang dari Myanmar ke Bangladesh sejak 25 Agustus 2017 telah mencapai 688.000 jiwa.
Dalam pernyataan tertulis yang dirilis Selasa, WHO mengatakan, kamp-kamp Rohingya - yang disebut sebagai wilayah permukiman terbesar di dunia - berisiko menyebarkan wabah penyakit.
Menurut WHO, pelayanan kesehatan bagi hampir 1,3 juta orang di Cox's Bazar - Rohingya maupun masyarakat sekitar - jadi kebutuhan yang sangat mendesak.
Direktur regional WHO untuk kawasan Asia Tenggara, Poonam Khetrapal Singh, mengatakan pemerintah Bangladesh dan badan mitra telah berusaha keras untuk mencegah penyebaran penyakit seperti wabah kolera, campak, dan difteri.
"Meskipun begitu, tantangannya semakin besar, banyak, dan terus-menerus. Untuk menanggulangi krisis ini diperlukan upaya dan kontribusi dari semua pihak demi peningkatan layanan kesehatan bagi penduduk," ungkap dia.
Singh juga menambahkan, "persedian air, sanitasi, dan tempat bermukim masih jauh dari optimal, sehingga menambah risiko penyebaran penyakit,"
PBB menyebut Rohinya sebagai kaum paling teraniaya di dunia, yang telah menderita sejumlah serangan sejak kekerasan komunal meletus pada 2012.
Menurut Dokter Lintas Batas, selama 25 Agustus - 24 September, setidaknya 9.000 Rohingya tewas di Rakhine.
PBB mencatat adanya pemerkosaan massal, pembunuhan, pemukulan brutal, dan penghilangan paksa yang dilakukan oleh pasukan keamanan Myanmar. PBB menyebut pelanggaran tersebut sebagai kejahatan kemanusiaan.