Muhammad Nazarudin Latief
26 Agustus 2020•Update: 26 Agustus 2020
JAKARTA
Belanja iklan pada kuartal ketiga tahun ini menunjukkan tren positif setelah tertekan pada kuartal kedua, menurut laporan lembaga survei Nielsen.
Menurut layanan Nielsen Advertising Intelligence, pada Januari-Juli uang yang dikeluarkan untuk belanja iklan mencapai Rp122 triliun.
Sementara memasuki masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kedua di Jakarta, para pemilik brand terlihat lebih percaya diri untuk kembali beriklan.
“Belanja iklan pada Juli Juli 2020 vs Juni 2020 naik sebesar 17 persen, mencapai angka Rp18, 3 triliun,” ujar kata Hellen Katherina, Executive Director Nielsen Media Indonesia dalam siaran pers.
Televisi masih mendominasi 72 persen porsi belanja iklan dengan angka lebih dari Rp 88 triliun.
Disusul belanja iklan digital 20 persen dengan total belanja iklan Rp24, 2 triliun.
Total belanja iklan media cetak mencapai lebih dari Rp9,6 triliun dan total belanja iklan radio mencapai Rp604 miliar.
Layanan online mendominasi pemasangan iklan dengan total belanja sebesar Rp2,5 triliun, naik 73 persen dibanding tahun lalu.
Kemudian produk wajah dengan total belanja iklan Rp1,4 triliun, meningkat bahkan dua kali lipat dan selanjutnya adalah perawatan rambut dengan total belanja iklan Rp 1,1 triliun (meningkat 51 persen).
Media cetak, masih tetap menjadi pilihan tempat beriklan kategori alat kesehatan dan finansial atau asuransi.
Sementara radio memiliki variasi kategori pengiklan yang lebih beragam, mulai dari kategori makanan, minuman hingga kategori obat batuk.
Para pemilik brand beradaptasi dengan gaya komunikasi dalam masa pandemi.
Ini terlihat dengan banyaknya edukasi tentang gaya hidup sehat dan menunjukkan kepedulian merek terhadap masyarakat dengan donasi alat kesehatan.
Iklan animasi juga mendominasi karena keterbatasan untuk melakukan pengambilan gambar secara langsung.