Iqbal Musyaffa
03 Oktober 2017•Update: 04 Oktober 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Nilai tukar rupiah yang melemah atas USD menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara merupakan fenomena global. Bukan cuma rupiah, Mirza menyebut berbagai mata uang asing atas USD juga melemah.
“Kalau mau dibilang melemah, bandingkan dulu dengan mata uang asing lainnya,” ujarnya, Selasa.
Ia membandingkan, rupee India melemah 0,4 persen atas USD; yen Jepang melemah 0,33 persen; dolar Singapura melemah 0,32 persen; serta renminbi Tiongkok melemah 0,24 persen. Sementara Rupiah melemah 0,27 persen pada hari ini.
Fenomena global penurunan nilai tukar beberapa mata uang negara atas USD, menurut Mirza, karena Presiden AS Donald Trump dalam 10 hari terakhir mengajukan proposal baru terkait penurunan pajak.
Walaupun belum komprehensif, namun andai proposal ini diterima oleh kongres dan senat AS, maka akan menjadi harapan baru bagi pertumbuhan ekonomi AS yang lebih cepat.
“Dengan begitu, suku bunga AS akan naik lebih cepat sehingga nilai dolar kembali menguat,” ujarnya.
Faktor kedua, menurut Mirza, adalah karena Gubernur The Fed (bank sentral AS) Janet Yellen pada minggu lalu menyatakan bahwa suku bunga AS akan naik kembali pada Desember mendatang. Sementara, Juni kemarin, suku bunga AS sudah naik 0,25 persen menjadi 1-1,25 persen.
“Pernyataan tersebut membuat pasar melihat kemungkinan naiknya suku bunga ketiga kalinya pada tahun ini semakin besar,” lanjutnya.
Sementara hal lain yang memicu penguatan USD secara global adalah spekulasi pergantian Janet Yellen sebagai gubernur The Fed setelah masa kerja Yellen habis pada Januari 2018.
Menurut Mirza, gubernur The Fed nantinya bisa jadi merupakan orang dengan pandangan Hawkish atau lebih senang dengan kondisi moneter yang ketat.
“Oleh pasar hal seperti ini menjadi omongan dalam sepuluh hari terakhir. Dan pada akhirnya kembali kepada kondisi fundamental ekonomi negara masing-masing,” urainya.
Lebih lanjut Mirza menegaskan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada pada posisi yang baik.
“Neraca pembayaran kita sehat, ekspor kita juga bagus, dan neraca perdagangan kita surplus,” jelasnya.
Mirza berujar, pada awal tahun proyeksi surplus perdagangan Indonesia sebesar USD6 miliar dan kemudian direvisi menjadi lebih optimistis hingga USD11 miliar pada akhir tahun nanti. Hingga Agustus, surplus neraca perdagangan Indonesia sudah mencapai USD 9,11 miliar.
“Tahun depan kita proyeksikan juga surplus USD 6 miliar sepanjang 2018. Itu sudah dengan angka yang konservatif,” tambahnya.
Selanjutnya menurut Mirza, inflasi Indonesia juga masih berada pada level yang baik dengan angka inflasi September sebesar 0,11 persen. Angka inflasi Januari-September berdasarkan data BPS tercatat 2,66 persen dan inflasi year to year sebesar 3,72 persen.
“Artinya masih di bawah 4 persen dan masih terjaga dengan baik,” ujarnya.
Ia optimis hingga akhir tahun nanti yang masih menyisakan tiga bulan lagi angka inflasi masih akan tetap di bawah 4 persen atau mendekati angka 3,5 persen.
“Tapi masih harus terus kita pantau,” tegasnya.
Terkait pertumbuhan ekonomi, menurut Mirza akan terus membaik dan akan berada di angka 5,4 persen pada kuartal IV mendatang.