Firdevs Bulut Kartal, Ali Atar
07 Juli 2026•Update: 07 Juli 2026
CEO Baykar Haluk Bayraktar menyerukan penguatan kerja sama di antara negara-negara anggota NATO untuk mempercepat pengembangan kemampuan kendaraan udara nirawak (UAV).
Menurutnya, menggabungkan keunggulan teknologi yang telah dimiliki masing-masing negara akan jauh lebih efektif dibandingkan membangun seluruh kemampuan dari awal.
Pernyataan itu disampaikan Bayraktar saat menjadi pembicara dalam panel "From Innovation to Mass: Building NATO's Drone Edge" pada Forum Industri Pertahanan yang digelar dalam rangka KTT Kepala Negara dan Pemerintahan NATO ke-36 di Ankara, Selasa.
Ia mengatakan meningkatnya peran drone di medan perang menuntut siklus pengembangan yang lebih singkat, produksi yang lebih cepat, dan kapasitas industri berskala besar.
"Dalam pendekatan kami di Turkiye, perusahaan besar seperti Baykar bahkan tidak menunggu munculnya permintaan untuk membangun kapasitas produksi. Apa yang kami lihat di lapangan menunjukkan kebutuhan yang sangat besar terhadap teknologi ini," ujarnya.
Bayraktar mengatakan Baykar saat ini bekerja sama dengan 40 negara, termasuk beberapa anggota NATO, dan ingin memperluas kemitraan dengan lebih banyak negara anggota aliansi.
"Sebagian besar pelanggan kami berasal dari luar NATO, tetapi kami ingin membangun lebih banyak hubungan dengan negara-negara NATO," katanya.
Ia menambahkan Turkiye telah membangun kapasitas produksi yang signifikan di sektor UAV.
Menurut Bayraktar, Baykar kini menjadi eksportir UAV terbesar di dunia setelah melakukan investasi besar selama 25 tahun terakhir dalam pengembangan berbagai platform, mulai dari pesawat tempur nirawak hingga sistem strategis.
Kerja sama lebih efektif daripada bersaing
Bayraktar mencontohkan pembentukan perusahaan patungan Leonardo Baykar Aerospace Systems (LBA Systems) bersama perusahaan pertahanan Italia, Leonardo, sebagai model kerja sama yang efektif.
"Jauh lebih cepat bekerja sama daripada mencoba menciptakan semuanya dari nol atau saling bersaing," katanya.
Menurutnya, Baykar memiliki berbagai platform dan sistem UAV, sedangkan Leonardo memiliki keunggulan pada muatan misi, radar, sistem elektronik, dan berbagai teknologi pendukung lainnya.
"Yang diperlukan adalah menciptakan sinergi dengan menggabungkan kemampuan terbaik yang dimiliki masing-masing pihak. Fokus utamanya harus pada penggabungan kekuatan tersebut, bukan mengembangkan semuanya dari awal," ujarnya.
Bayraktar menegaskan model kemitraan tersebut bukan bertujuan memindahkan hak kekayaan intelektual yang sudah ada, melainkan mengembangkan teknologi baru secara bersama.
"Berbagi teknologi tentu bisa terjadi, tetapi tujuan utamanya bukan berbagi hak kekayaan intelektual. Melalui perusahaan patungan, kami ingin menciptakan hak kekayaan intelektual baru di atas kemampuan yang sudah dimiliki masing-masing pihak," katanya.
Ia menilai membangun kemampuan serupa dari nol di negara lain dapat memakan waktu puluhan tahun, sedangkan kolaborasi memungkinkan negara-negara sekutu segera mengembangkan teknologi canggih dan memperoleh keunggulan lebih cepat.
Setiap negara perlu memiliki kapasitas drone FPV
Bayraktar mengatakan ekosistem industri pertahanan Turkiye berkembang pesat dalam dua dekade terakhir.
"Dua puluh tahun lalu hanya ada 17 perusahaan industri pertahanan di Turkiye. Kini jumlahnya telah melampaui 3.000 perusahaan," katanya.
Menurut Bayraktar, nilai ekspor industri pertahanan Turkiye yang dahulu mencapai sekitar US$250 juta kini telah meningkat menjadi sekitar US$450 juta setiap pekan, dengan total ekspor tahunan melampaui US$10 miliar.
Ia mengatakan NATO terdiri atas negara-negara besar maupun kecil sehingga berbagi kemampuan dan membangun sinergi akan jauh lebih efisien dibandingkan setiap negara membangun kapasitas yang sama dari nol.
Bayraktar juga menilai model produksi dan kerja sama perlu disesuaikan dengan jenis UAV yang dikembangkan.
"Drone kini semakin menjadi bagian dari kehidupan kita dan telah menjadi salah satu elemen utama dalam peperangan modern. Permintaan terhadap teknologi ini sangat tinggi dan kebutuhan di lapangan semakin jelas," katanya.
Ia menjelaskan UAV mencakup pesawat tempur nirawak, platform strategis, hingga drone berukuran kecil. Menurutnya, setiap negara perlu membangun kapasitas produksi drone first-person view (FPV).
"Drone FPV hampir seperti amunisi; setiap negara membutuhkan produsennya sendiri. Namun, untuk UAV kelas pesawat tempur diperlukan kerja sama antarsekutu. Saya yakin pendekatan itu jauh lebih bermanfaat," ujarnya.