Muhammad Nazarudin Latief
02 April 2018•Update: 03 April 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka inflasi Maret mencapai 0,2 persen.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan inflasi terjadi karena kenaikan harga barang hampir di semua kelompok pengeluaran.
“Indeks seluruh kelompok pengeluaran naik,” ujar Suhariyanto, saat memberikan paparan “Inflasi Bulanan” di kantornya, Senin.
Sementara inflasi Januari-Maret sebesar 0,99 persen, sedangkan inflasi Maret-2017 dan Maret 2018 mencapai 3,40 persen.
Menurut Suhariyanto, secara umum perkembangan harga berbagai komoditas secara umum mengalami kenaikan namun juga ada penurunan.
Menurut dia, inflasi tertinggi terjadi pada kesehatan dan sandang, kemudian transportasi. Andil yang berpengaruh besar yaitu bahan makanan, makanan jadi, transportasi, komunikasi dan jasa keuangan.
Inflasi pada bahan makanan sebesar 0,14 persen dan memberikan andil pada inflasi secara umum sebesar 0,05 persen.
Komoditas yang harganya naik antara lain cabai merah, bawang merah, bawang putih, bensin, cabai rawit. Kemudian lauk pauk seperti daging sapi dan ikan diawetkan.
Di kelompok sayur mayur harga yang naik adalah bayam, kangkung dan sawi hijau.
Menurut Suhariyanto, rokok kretek juga ada kenaikan, selain itu upah tukang bukan mandor, dan emas perhiasan.
Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga, antara lain beras, ikan segar, daging ayam ras, telur ayam ras, kentang, tomat sayur, wortel, tempe, dan bahan bakar rumah tangga.
Menurut Suhariyanto, untuk transportasi, komunikasi dan jasa keuangan inflasinya 0,28 persen dengan andil 0,05 persen.
Andil dominan adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Pada akhir Februari, Pertamina menaikkan harga Pertamax Rp300 per liter dan Pertamax
Turbo sebesar Rp500 per liter. Dampak kenaikan ini masih terasa hingga Maret dan ditambah kenaikan harga Pertalite Rp200 di pertengahan Maret.
Direktur Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan, bahan bakar jenis Pertralite dan Pertamax semakin banyak digunakan masyarakat, bahkan sudah mencapai 60 persen dari total konsumsi BBM.
Selain itu, distribusi premium semakin ditekan karena naiknya harga minyak mentah di pasaran.
“Karena kenaikan harga itu, wajar jika inflasi didorong oleh komponen transportasi dan bahan makanan,” ujar dia saat dihubungi Anadolu Agency.