Iqbal Musyaffa
05 Oktober 2017•Update: 05 Oktober 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Permasalahan disrupsi ekonomi akibat perubahan pola bisnis dan ekonomi menuju era digital menjadi pembahasan utama dalam World Islamic Economic Forum (WIEF) di Serawak, Malaysia, pada November mendatang.
Sebagai bagian dari rangkaian penyelenggaraan WIEF, tema sama juga didiskusikan di Jakarta, Kamis, dengan fokus kepada dampak dan tantangan akibat perubahan disrupsi ekonomi.
“Transformasi digital tidak terelakkan karena potensinya yang sangat besar,” ujar Ketua Yayasan WIEF Tun Musa Hitam.
Aktivitas ekonomi digital di ASEAN, sebut Hitam, sudah menghasilkan pendapatan sekitar USD150 miliar per tahun.
“Angka ini sangat berpotensi untuk berkembang menjadi USD1 triliun pada tahun 2025,” ungkap dia.
Isu disrupsi ekonomi yang akan dibahas seputar sains, teknologi, dan inovasi pada sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence), blockchain, dan internet of things (IoT) yang menurutnya terus bertransformasi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Berdasarkan data dari WIFE, peluang pasar dari sektor digital dengan berbagai inovasi yang sering disebut sebagai revolusi industri keempat ini sangat besar. Perkembangan teknologi finansial (fintech) di Asia mencatatkan investasi yang besar di angka USD 4,5 miliar.
Sementara teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) diprediksi akan menciptakan nilai ekonomi pada kisaran USD 1,8 triliun hingga USD 3 triliun per tahun di Asia pada tahun 2030.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Yayasan WEIF Tan Sri Dato Ahmad Fuzi Haji Abdul Razak menambahkan hal lain yang akan dibahas mengenai perkembangan tren penggunaan produk dan layanan halal.
Produk dan layanan halal seperti busana, parfum, kosmetik, makanan, wisata, dan sebagainya terus berkembang menurutnya karena mulai dapat diterima oleh konsumen-konsumen non-Muslim.
WIEF memperkirakan produk dan layanan halal secara keseluruhan di seluruh dunia tumbuh sekitar 8 persen per tahun dengan nilai mencapai USD 2,3 triliun. Bahkan untuk industri makanan dan minuman halal saja pertumbuhannya mencapai USD 1,4 triliun.
“Pertumbuhan populasi dan peningkatan daya beli menjadi prospek pendorong pertumbuhan di masa depan,” ujar Dato Ahmad.
Lebih lanjut, ia juga mengatakan WEIF mendatang akan membahas juga terkait perkembangan keuangan dan hukum Islam, kewirausahaan dan UMKM, serta seni, budaya, dan desain.