Muhammad Nazarudin Latief
20 April 2020•Update: 21 April 2020
JAKARTA
Dua perusahaan raksasa Jepang, Mizuho dan Japan’s Sumitomo Mitsui Financial Group Inc (SMFG) menyatakan tidak lagi mendukung pembiayaan proyek-proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batu Bara.
Ahmad Ashov Birry, program manager Trend Asia, salah satu organisasi pencinta lingkungan mengatakan situasi multi-krisis menjadi momentum yang tepat bagi para penyokong proyek-proyek batu bara untuk meninggalkan industri ini.
“Meskipun belum ideal, komitmen Mizuho dan SFMG harus menjadi pendorong bagi para pendana batu bara lainnya untuk secara lebih cepat dan menyeluruh meninggalkan batu bara,” ujar dia, pada Anadolu Agency, Senin.
Mizuho akan memangkas saldo kredit untuk sektor pembangkit listrik bertenaga batu bara sebesar USD2,8 miliar untuk proyek pembangkit listrik tenaga batubara pada 2030 dan akan berhenti membiayai secara total pada 2050.
Sementara Sumitomo Mitsui Financial Group Inc (SMFG) menyatakan tidak akan lagi memberikan pinjaman kepada PLTU batu bara baru mulai 1 Mei mendatang.
Bank-bank Jepang adalah satu di antara sedikit pemberi pinjaman utama yang masih mendukung proyek-proyek batu bara, saat bank-bank lain di seluruh dunia telah mengurangi pembiayaan mereka terhadap batubara.
Meskipun terlambat, langkah kedua perusahaan tersebut menjadi terobosan karena merupakan lender dengan portofolio terbesar.
Tiga bank utama negara ini - SMFG, Mizuho, dan Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) - termasuk di antara lima pemberi pinjaman terbesar di dunia untuk PLTU batu bara dan pertambangan selama lima tahun terakhir.
Di Indonesia sendiri ketiga bank tersebut merupakan kreditor andalan bagi IPP untuk membiayai sejumlah proyek PLTU.
Beberapa proyek PLTU yang dibiayai oleh tiga bank tersebut di antaranya PLTU Jawa 4 berkapasitas 2x1.000 MW, PLTU Cirebon I berkapasitas 1x660MW dan PLTU Cirebon II berkapasitas 1x1000 MW.
Menurut Asrov, perubahan kebijakan terjadi ketika sektor ini menghadapi tekanan dari aktivis dan kelompok lingkungan untuk membantu mengatasi perubahan iklim.
Menurut dia, industri batu bara, termasuk para penyokongnya, telah sejak lama dikenal sebagai salah satu kontributor utama terciptanya krisis iklim.