Iqbal Musyaffa
16 Oktober 2017•Update: 16 Oktober 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto pada Senin mengatakan kebijakan pemerintah memperkuat perdagangan dengan pasar-pasar nontradisional mulai menunjukkan hasil.
Kebijakan tersebut, menurut dia sangat bagus agar Indonesia tidak hanya tergantung pada tiga negara mitra dagang utama (Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat) saja.
Dengan begitu, apabila terjadi penurunan permintaan dari negara mitra dagang utama, Indonesia masih memiliki alternatif pasar tujuan ekspor lainnya.
“Pasar nontradisional terutama ke Afrika dan Amerika Latin dan juga Turki mulai ada pergerakan, meskipun kecil,” ujar dia.
Berdasarkan data BPS, ekspor Indonesia dengan Turki periode Januari-September mencapai USD839,7 juta, tumbuh 10,23 persen dari periode sama tahun lalu yang mencatatkan nilai ekspor sebesar USD761,8 juta
“Pembahasan kerja sama perdagangan CEPA Indonesia-Turki menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan ekspor kita,” jelas Suhariyanto.
Selain itu, pasar ekspor Indonesia dengan Brasil sebagai pasar nontradisional juga mulai tumbuh 9,67 persen untuk periode Januari-September tahun ini bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu.
Nilai ekspor Indonesia ke Brasil pada periode tersebut mencapai USD900,46 juta, naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar USD821,07 juta.
Begitupun dengan Mesir, ekspor Indonesia tumbuh 21,75 persen pada periode Januari-September tahun ini dari periode yang sama di tahun lalu dari USD756,72 juta menjadi USD921,31 juta.
“Pemerintah saat ini mulai menentukan barang apa saja yang dibutuhkan pasar nontradisional tersebut, karena tiap negara kebutuhannya berbeda,” urai dia.
Beberapa produk ekspor yang menurut dia sangat mungkin untuk diperluas pasarnya ke negara-negara nontradisional adalah tekstil serta barang-barang hasil industri kreatif.