İqbal Musyaffa
30 Agustus 2018•Update: 31 Agustus 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Ekonom Senior Bank Mandiri Andri Asmoro dalam press briefing di Jakarta, Kamis, mengatakan, secara fundamental ekonomi, Indonesia masih lebih baik dari beberapa negara berkembang seperti Turki, Argentina, dan Venezuela.
Indonesia menurut dia, memiliki pertumbuhan ekonomi 5,27 persen pada triwulan II tahun ini. Pertumbuhan tersebut lebih baik dari Argentina yang tumbuh 3,6 persen dan Venezuela yang tumbuh negatif 3,96 persen.
Bila dibanding Turki, pertumbuhan ekonomi negara tersebut lebih baik dengan pertumbuhan 7,36 persen.
“Tapi dilihat dari inflasi, Indonesia masih lebih baik dengan inflasio 3,25 persen di triwulan II. Sementara inflasi Turki 12,8 persen, Argentina 23,17 persen, dan Venezuela 169,67 persen,” jelas Andri.
Secara defisit transaksi berjalan, Indonesia menurut Andri masih berada di bawah 3 persen. Sementara Turki mencapai 5 persen begitupun Argentina sebesar 4,8 persen.
“Indikator ekonomi Indonesia masih lebih baik dari negara berkembang lainnya,” lanjut dia.
Meski begitu, peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan menurut dia relatif terbatas karena sumber pertumbuhan dari ekspor terhambat dengan pertumbuhan harga komoditas yang stagnan.
“Pertumbuhan harga palm oil, batu bara, dan minyak relatif kecil. Ditambah lagi banyak volatilitas yang berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tambah Andri.
Kondisi ekonomi di beberapa negara berkembang seperti Turki menurut dia, turut andil pada pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya pada pasar finansial melalui aliran modal yang masuk.
“Sulit menebak arah capital flow yang sangat sensitif pada isu di negara berkembang, termasuk pada arah kebijakan suku bunga dan sentimen lainnya,” urai Andri.
Indonesia menurut dia berada pada keranjang yang sama dengan negara berkembang lainnya yang memiliki defisit transaksi berjalan (CAD). Meskipun level CAD Indonesia aman, namun menurut dia, perlu ada pengelolaan defisit dalam kerangka balance of payment secara keseluruhan.