Muhammad Nazarudin Latief
04 Mei 2018•Update: 05 Mei 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Maskapai penerbangan milik pemerintah, Garuda Indonesia, mencatatkan kerugian sebesar USD64,3 juta pada kuartal I/2018.
Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia Pahala N Mansury mengatakan kerugian ini menyusut sebanyak 36,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar USD101,2 juta.
“Triwulan I itu biasanya sulit, karena tidak ada peak season atau musim liburan,” ujar Pahala dalam konferensi pers Laporan Kinerja Garuda Indonesia Kuartal I/2018 di Jakarta, Kamis.
Menurut Pahala, kerugian ini terjadi karena ada kenaikan biaya operasional perseroan sebesar 2,5 persen dari USD1,023 miliar menjadi USD1,049 miliar. Kenaikan terjadi pada biaya landing fee, rental dan bahan bakar.
Menurut Pahala, kenaikan bahan bakar paling berdampak signifikan pada biaya operasional, yakni mencapai 8,1 persen dari USD292,3 juta menjadi USD316 juta.
“Kita banyak tergantung dari biaya fuel, Karena harga crude oil sudah di atas USD70 per barel. Jet fuel berkorelasi cukup tinggi dengan crude oil,” ujar dia.
Dari sisi pendapatan, Garuda berhasil mendapatkan operating revenue sebesar USD983 juta dengan pertumbuhan sebesar 7,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD910,7 juta.
Secara umum, lanjut dia, kinerja perseroan dipengaruhi oleh kinerja rute internasional pada periode Januari-Februari yang masih mengalami tekanan akibat dampak travel warning erupsi Gunung Agung oleh sejumlah negara.
Kinerja rute internasional khususnya sektor penerbangan menuju Bali dari sejumlah negara seperti Jepang, Korea, dan Cina masih belum pulih hingga akhir Februari 2018.
Garuda mencatatkan jumlah passenger carried meningkat sebanyak 8,8 juta atau 5 persen year on year. Sementara, kargo yang diangkut juga meningkat sebesar 3,2 persen menjadi 111,9 ribu ton.
Kinerja terkait ketepatan waktu penerbangan (On Time Performance/OTP) mencapai 88,8 persen atau meningkat dibandingkan catatan capaian OTP pada tahun lalu sebesar 86,5 persen.
Kemudian, tingkat keterisian penumpang (SLF) mencapai 71,4 persen. Indikator lain yang meningkat antara lain aircraft utilization meningkat dari 9,19 jam menjadi 9,41 jam.
Dengan pertumbuhan kinerja ini, Pahala optimistis proyeksi keuntungan sebesar USD8,7 juta pada akhir tahun bisa tercapai.
"Kita sudah on the track ada laba di 2018,” ujar dia.
Untuk memperkuat keuangan dan operasional perusahaan secara berkelanjutan, Garuda dan anak perusahaan pada awal 2018 mencanangkan strategi bisnis jangka panjang bertajuk Garuda Indonesia Group (Sky Beyond 3.5) yang akan menjadi value-driven aviation group dengan pencapaian target valuation group sebesar USD3,5 miliar pada 2020.