İqbal Musyaffa
14 Juli 2018•Update: 15 Juli 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita akan mendatangi Amerika Serikat pada 21 hingga 28 Juli untuk membahas review Amerika Serikat terhadap negara-negara penerima fasilitas Generalized System Preferences (GPS).
GSP adalah fasilitas dengan sistem preferensi umum yang diberikan negara maju seperti AS untuk produk-produk tertentu dari negara berkembang yang memenuhi syarat dalam bentuk penurunan ataupun pembebasan bea masuk untuk membantu pembangunan di negara-negara berkembang yang mendapatkan fasilitas tersebut.
Indonesia merupakan salah satu negara yang mendapatkan fasilitas GSP, namun kini pemberian fasilitas itu untuk Indonesia sedang dikaji ulang oleh pemerintah AS.
Menteri Enggartiasto mengatakan dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat, rencana kunjungan ini atas undangan dari United State Trade Representative (USTR) atau kementerian perdagangan AS.
“Undangan ini merupakan hasil dari lobi secara tertulis yang dilakukan pemerintah Indonesia,” ungkap Menteri Enggartiasto.
Pemerintah, menurut dia, akan berupaya menjaga dan mengamankan pasar komoditas ekspor Indonesia ke negara-negara tujuan ekspor untuk mencapai target pertumbuhan ekspor 11 persen.
Oleh karena itu, Menteri Enggartiasto menegaskan bahwa pemerintah harus sigap bertindak jika ada indikasi pasar ekspornya mengalami hambatan. Meskipun, dia mengakui bahwa pemberian fasilitas GSP mutlak menjadi kewenangan AS sebagai negara berdaulat.
“Kunjungan ke AS nanti sebagai upaya untuk menjaga agar kepentingan ekspor Indonesia tidak terganggu karena AS adalah negara mitra dagang utama kedua setelah Tiongkok,” jelas dia.
Dalam kunjungan nanti, delegasi Indonesia juga akan terdiri dari para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin), asosiasi, para pelaku usaha, sera pemangku kepentingan lainnya
“Kunjungan ini merupakan langkah antisipatif atas dinamika perdagangan internasional yang memicu banyak kebijakan proteksionisme hingga kenaikan tarif bea masuk,” lanjut dia.
Selain itu, kunjungan ini menurut Menteri Enggartiasto juga dapat memperkuat kemitraan bilateral Indonesia dan AS. Dia menambahkan, Indonesia juga akan mengangkat isu defisit perdagangan AS dari Indonesia.
“Indonesia siap bermitra dengan AS untuk mengidentifikasi dan mengatasi isu defisit perdagangan karena kedua negara memiliki produk dan jasa yang tidak bersaing, tetapi saling melengkapi,” jelas Menteri Enggartiasto.