Muhammad Nazarudin Latief
09 April 2021•Update: 10 April 2021
JAKARTA
Indonesia dan China sepakat memperbesar arus perdagangan khususnya produk unggulan dengan pembentukan Working Group on Promotion of Smooth Trade atau kelompok kerja peningkatan kelancaran perdagangan.
Sebelumnya Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dan koleganya dari China Wang Wentao mengadakan pertemuan membahas beberapa upaya peningkatan perdagangan.
“Dalam pertemuan juga dibahas langkah-langkah mempererat kerja sama perdagangan kedua negara,” ujar dia dalam siaran pers, Jumat.
WGPST merupakan forum kerja sama bilateral untuk mempererat hubungan kemitraan strategis kedua negara di bidang perdagangan.
WGPST berada di bawah kerangka forum High Level Economic Dialogue yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) China adalah mitra dagang terbesar Indonesia dengan total transaksi pada 2020 sebesar USD71,41 miliar.
Ekspor Indonesia tahun lalu tercatat sebesar USD31,78 miliar naik 13,64 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sedangkan impor sebesar USD39,63 miliar.
“Pertemuan pertama kelompok kerja dimaksud direncanakan untuk dilakukan segera pada tahun ini,” ujar Menteri Lutfi.
--Kesepakatan Rp20 triliun
Sebelumnya pada awal bulan ini, Indonesia dan China juga mencapai kesepakatan perdagangan senilai USD1,38 miliar atau Rp20,04 triliun.
Produk yang diminta China antara lain sarang burung walet, buah tropis khususnya nanas, porang, gula aren dan furnitur.
Selain itu, salah satu grup perusahaan China Shandong Jinruyi Group juga akan melakukan investasi di bidang usaha furnitur yang diperkirakan bisa menyerap hingga 3.000 tenaga kerja.
Menteri Lutfi menargetkan peningkatan ekspor Indonesia ke Tiongkok dalam tiga tahun ke depan hingga USD100 miliar.
Indonesia dan China juga menjajaki kerja sama ekonomi yang lebih dalam dengan memperbaharui skema bilateral Economic and Trade Cooperation yang terjalin sejak 2011 menjadi Trade and Investment Facility Agreement (TIFA).