İqbal Musyaffa
29 November 2018•Update: 29 November 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indonesia mengincar posisi untuk bisa menjadi pemain utama dalam industri baterai listrik atau lithium sebagai sumber energi mobil listrik.
Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan pada Kamis mengatakan saat ini Indonesia baru sebatas pemain biasa dan belum dapat mengontrol pasar baterai lithium dunia.
Pengembangan baterai listrik, menurut dia, menjadi faktor utama keberhasilan program mobil listrik.
Dengan bisa menjadi produsen baterai lithium, maka harga mobil listrik bisa lebih murah.
“Kita penghasil nikel terbesar di dunia. Jadi sekarang arahnya ke pengembangan mobil listrik,” ujar Menko Luhut di Jakarta.
Dia menegaskan sudah saatnya Indonesia tidak lagi bergantung pada energi fosil dengan mengembangkan diversifikasi energi.
Pengembangan baterai lithium dan mobil listrik ini jadi salah satu upayanya.
Namun, pengembangan baterai lithium dan mobil listrik, menurut Menko Luhut, bukan perkara mudah karena mobil listrik masih memiliki bobot yang lebih berat dan juga harga yang lebih mahal.
Meskipun harga mobil listrik lebih mahal, dia menilai dapat dikompensasi dengan lebih rendahnya biaya operasional hingga 3,8 persen. Mobil listrik juga mampu menekan angka emisi hingga 23 persen.
Menko Luhut mengatakan Indonesia harus belajar dari AS dan Eropa yang sudah mulai mengurangi energi fosil untuk kendaraan dengan mulai beralih ke mobil listrik.
Dia memberi contoh AS memberikan insentif untuk setiap penjualan mobil listrik.
Selain itu, dia juga mengatakan Indonesia perlu belajar dari China yang telah menjadi negara dengan penjualan mobil listrik terbesar dan juga menjadi produsen baterai lithium terbesar.
“Kita harus belajar. Tapi orang marah karena kita dianggap berpihak ke China. Yang bagus (harus) kita lihat dan contoh,” tegas dia.
Menko Luhut menyebut saat ini 98 persen mobil yang ada di Indonesia adalah buatan Jepang. Indonesia menurut dia, terlalu besar untuk berpihak hanya ke satu negara atau dikontrol oleh satu negara saja.
Menko Luhut juga menegaskan bahwa keinginannya mengembangkan mobil listrik ini murni untuk kepentingan negara dan bukan untuk kepentingannya pribadi.
“Saya tidak mau ada conflict of interest. Saya tidak punya kepentingan bisnis di pemerintahan,” tambah dia.