Muhammad Nazarudin Latief
13 April 2018•Update: 13 April 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia dan tiga negara Afrika yaitu Mozambik, Tunisia, dan Maroko sepakat untuk memulai perundingan Preferential Trade Agreement (PTA) tahun ini. Kesepakatan ini diambil di sela-sela Indonesia Africa Forum (IAF) di Bali 10-11 April lalu.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan dengan PTA perdagangan Indonesia dengan ketiga negara tersebut lebih terstruktur, bisa meningkatkan kerja sama ekonomi dan pertukaran ekonomi.
“PTA ini bisa memfasilitasi para pelaku usaha, termasuk usaha kecil dan menengah. Perdagangan juga akan meningkat, karena saat ini masih jauh dari potensi yang dapat digali,” ujar Menteri Enggar di Jakarta, Jumat.
PTA adalah pakta perdagangan antara negara-negara dengan mengurangi tarif untuk produk-produk. Pakta ini tidak menghapuskan tarif, namun tarif yang dikenakan lebih rendah dibanding negara yang tidak mengikuti perjanjian.
Menteri Enggar telah bertemu dengan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Mozambik Ragendra de Sousa. Keduanya melakukan joint statment untuk meluncurkan perundingan PTA Indonesia-Mozambik.
Total perdagangan Indonesia–Mozambik pada 2017 sebesar USD82,2 juta. Nilai ini terdiri atas ekspor Indonesia sebesar USD54,1 juta dan impor Indonesia sebesar USD28,1 juta. Indonesia masih surplus sebesar USD26 juta.
Perluasan akses pasar di negara-negara tujuan ekspor nontradisional, khususnya di wilayah Afrika, telah menjadi fokus kebijakan perdagangan Indonesia setelah Presiden Jokowi bertemu dengan beberapa kepala negara di wilayah Afrika pada Indian Ocean Rim Asociation (IORA) Summit pada Maret 2017.
Menteri Enggar juga melakukan pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri Maroko Mounia Boucetta. Wamen Boucetta menyampaikan dukungannya atas rencana PTA yang diusulkan Indonesia.
Maroko merupakan salah satu pasar ekspor nontradisional yang menjadi penghubung ke pasar Afrika. Total perdagangan Indonesia-Maroko pada 2017 mencapai USD154,8 juta. Nilai tersebut terdiri atas ekspor Indonesia ke Maroko sebesar USD86 juta, dan impor Indonesia dari Maroko sebesar USD68,8 juta.
Saat membahas PTA dengan Tunisia, Indonesia diwakili Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan Ni Made Ayu Marthini. Sedangkan dari Tunisia adalah Duta Besar Tunisia Mourad Bellhassen.
Total perdagangan Indonesia-Tunisia pada 2017 sebesar USD88 juta. Terdiri atas ekspor Indonesia sebesar USD55,2 juta dan impor Indonesia sebesar USD32,8 juta. Dengan demikian, Indonesia surplus sebesar USD22,4 juta.
“Tunisia mengundang Indonesia untuk memulai perundingan putaran pertama pada Juni 2018. Targetnya perundingan selesai tahun ini,” ujar Made.
Selain ketiga negara, Indonesia juga mendapatkan komitmen meningkatkan aktivitas perdagangan dengan Kamerun.
Total perdagangan Indonesia-Kamerun pada 2017 sebesar USD103,4 juta. Produk potensial Indonesia yang diekspor ke Kamerun antara lain minyak kelapa sawit dan pecahannya, margarin, sabun, kertas dan kertas karton, dan buku-buku catatan.