Muhammad Nazarudin Latief
02 Januari 2018•Update: 03 Januari 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa merilis angka inflasi 2017 tercatat sebesar 3,61 persen, lebih rendah dari target pemerintah pada APBN-P 2017 sebesar 4,3 persen.
Namun, angka inflasi tahun ini masih lebih tinggi dibanding 2016 yang hanya sebesar 3,02 persen.
“Ini positif, berada di bawah target nasional,” ujar Kepala BPS Suhariyanto.
Komoditas yang memberi andil terbesar pada inflasi tahun ini adalah tarif listrik (0,81 persen), biaya perpanjangan STNK (0,24 persen), ikan segar (0,20 persen), bensin (0,18 persen), dan beras (0,16 persen).
Menurut Suhariyanto, ini menunjukkan bahwa pemerintah berhasil mengendalikan harga bahan pokok dan volatile food.
Hal ini berbeda dibanding tahun lalu, di mana sumbangan inflasi didominasi oleh barang-barang pokok seperti cabai merah, bawang merah, bawang putih, tarif angkutan udara, dan rokok kretek filter.
“Inflasi 2017 pattern-nya berubah, volatile food tidak berpengaruh besar,” ujar Suhariyanto.
Sementara, angka inflasi Desember 2017 tercatat sebesar 0,71 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dari November yang hanya 0,20 persen.
Inflasi terjadi karena kenaikan harga dari semua kelompok pengeluaran, terutama bahan makanan, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau.
Bulan ini juga digelar perayaan Natal dan Tahun Baru 2018 yang membuat sejumlah harga barang pokok naik.
Menurut Suhariyanto, inflasi Desember adalah tertinggi kedua tahun ini setelah Januari yang saat itu mencapai 0,97 persen. Tahun ini juga pernah terjadi deflasi, yakni pada Maret sebesar 0,02 persen dan Agustus 0,07 persen.
“Inflasi bulanan tertinggi terjadi di Jayapura sebesar 2,28 persen dan terendah di Sorong sebesar 0,18 persen,” ujar Suhariyanto.