Iqbal Musyaffa
23 Oktober 2020•Update: 23 Oktober 2020
JAKARTA
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengatakan penanaman modal asing maupun dalam negeri di Jawa dan luar Jawa kali ini sudah semakin berimbang.
Kondisi ini berbeda dengan tahun lalu dengan lokasi investasi yang didominasi Pulau Jawa.
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan sejak Januari hingga akhir September, realisasi investasi di luar Jawa semakin membaik sejumlah Rp304,1 triliun atau 49,7 persen dari total investasi yang masuk.
“Sementara pada 2019 hingga September, investasi di luar Jawa hanya Rp271,2 triliun atau 45,1 persen dari total investasi saat itu,” ujar Bahlil dalam konferensi pers virtual, Jumat.
Kemudian, investasi di Pulau Jawa pada Januari-September tahun ini sebesar Rp307,5 triliun atau 50,3 persen dari total investasi.
Tahun lalu, investasi di Jawa pada periode yang sama mencapai Rp330,2 triliun atau 54,9 persen dari total investasi saat itu.
“Investor dalam menempatkan investasinya tidak lagi fokus di Jawa saja, tapi sudah ke luar Jawa karena pembangunan infrastruktur di periode Joko Widodo-Jusuf Kalla mulai ada dampaknya,” lanjut dia.
Bahlil mengatakan pemerintah juga terus berupaya mendorong agar investor mulai berinvestasi ke luar Jawa dengan perlakuan yang berbeda antara investasi di Jawa dan luar Jawa.
“Untuk investasi di luar Jawa ada tax holiday dan insentif fiskal yang lebih menarik dibandingkan di Jawa,” jelas Bahlil.
Dia menyontohkan apabila investasi di Jawa mendapatkan insentif tax holiday selama 10 tahun, maka investasi di luar Jawa bisa mendapatkan insentif 15 tahun.
Selanjutnya, pemerintah juga menawarkan diskon tarif untuk mesin dan barang-barang yang diimpor untuk keperluan produksi dan investasi di luar Jawa dan juga pemberian tax allowance.
Selain itu, Bahlil mengatakan harga tanah untuk investasi di luar Jawa juga lebih murah sehingga bisa menjadi daya tarik tersendiri.
“Kita tawarkan kemudahan pada investor untuk investasi di luar Jawa karena dengan cara ini orang akan tertarik masuk,” lanjut dia.