Muhammad Latief
13 September 2017•Update: 14 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Periode Januari-Juli 2017, produk-produk rokok mengerem belanja iklan mereka di televisi, koran, maupun majalah, kata Executive Director Head of Media Business Nielsen Indonesia, Hellen Katherina, Rabu.
Belanja iklan rokok kretek berkurang sebesar Rp 1,1 triliun atau turun 28 persen dibandingkan dengan belanja iklan di kuartal sama tahun lalu (year on year). “Belanja mereka kini hanya Rp 2,8 trilyun,” sebut Helen.
Pengurangan iklan terbesar dilakukan Dunhil, Lucky Strike Mild, dan Djarum Super Mild. Sebelumnya, ketiga merek ini terkenal jor-joran membelanjakan dana untuk iklan.
Sementara itu, produk lain yang turun belanja iklannya periode tersebut adalah obat tradisional yang berkurang Rp 404 milyar, atau hanya separuhnya dibandingkan tahun lalu. Pengurangan terbesar dilakukan oleh Tolak Angin Cair Plus Madu, Sidomuncul Pegel Linu, dan Bintang Tujuh Masuk Angin.
Kategori lain yang mengalami penurunan belanja iklan adalah pemerintahan dan partai politik. Tahun lalu, kategori ini belanja sebanyak Rp 4,3 milyar, kini mereka hanya belanja sekitar Rp 4 miliar.
Urutan berikutnya adalah kopi dan teh, yang turun Rp 361 miliar atau 14 persen dari tahun lalu. Sedangkan kategori terakhir adalah komputer dan hardware yang turun Rp 226 miliar atau 58 persen dari tahun lalu.
Secara umum, kata Helen, belanja iklan masih menunjukkan tren peningkatan dengan pertumbuhan 6 persen. Dengan kenaikan tersebut, belanja iklan di TV dan media cetak mencapai Rp 82,1 triliun. Namun, kata Helen, pergerakan ini disebabkan karena kenaikan harga iklan, ketimbang volume iklan.
Dari sisi media, TV masih mengonsumsi kue iklan terbesar (Rp65,1 triliun), diikuti koran (Rp 15,6 triliun). Menariknya, perkembangan iklan radio tahun ini mencapai Rp 811,8 miliar, melebihi belanja iklan di majalah dan tabloid yang hanya sebesar Rp686,6 miliar.
Produk-produk yang mendorong pertumbuhan belanja iklan di antaranya adalah telekomunikasi dan layanan online, yang masing-masing tumbuh 32 persen dan 31 persen, hingga masing-masing mencapai Rp 3,7 triliun dan Rp 3,2 triliun.
Merek ponsel Vivo meningkatkan belanja iklannya 59 kali dibandingkan tahun lalu hingga mencapai Rp 462,4 miliar. Samsung berada di urutan berikutnya dengan belanja iklan mencapai Rp 372,1 milyar, atau meningkat sebesar 14 kali dari tahun lalu.
Sementara untuk kategori layanan online, tiga pengiklan terbesar dan pendorong pertumbuhan untuk periode ini adalah Traveloka, Agoda, dan Shopee.
“Gaya hidup konsumen yang semakin mendekat ke arah digital memengaruhi ketatnya kompetisi para penyedia jasa telekomunikasi dan layanan online,” Helen menyimpulkan.