Muhammad Latief
JAKARTA
Para pengusaha di Indonesia menunjukkan optimisme bisnis yang kuat terhadap adanya pertumbuhan ekonomi dalam satu hingga dua tahun ke depan, menurut survei HSBC yang dirilis Rabu.
Survei tersebut memperlihatkan sebanyak 98 persen perusahaan memproyeksikan pertumbuhan bisnis dalam satu atau dua tahun ke depan, melampaui sentimen global.
"Hampir setengah dari perusahaan Indonesia (45 persen) memproyeksikan tingkat pertumbuhan lebih dari lima persen, tertinggi di antara semua pasar yang disurvei," kata Sumit Dutta, Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia dalam siaran persnya yang diterima Anadolu Agency.
Faktor utama pendorong pertumbuhan bisnis menurut para pemimpin perusahaan di Indonesia adalah peningkatan basis pelanggan, dan pengembangan kualitas tenaga kerja.
Selain itu ada perbaikan logistik dan transportasi yang kini digenjot pemerintah sebagai faktor pendorong pertumbuhan bisnis.
Laporan berjudul 'Navigator: Made for the Future' ini melakukan survei pada lebih dari 2.500 perusahaan di 14 pasar global.
Di Asia Pasifik (Australia, daratan Cina, Hong Kong, India, Indonesia, Malaysia dan Singapura), Eropa (Prancis, Jerman dan Inggris), Timur Tengah dan Afrika Utara (UEA) dan Amerika Utara (Kanada, Meksiko, dan AS).
Survei itu menyebutkan, sekitar 74 persen responden Indonesia yakin dengan peluang bisnis di masa depan, bahkan peluang itu lebih besar dibanding ancamannya.
Menurut mereka, peningkatan produktivitas adalah peluang yang bisa dikembangkan untuk masa depan bisnis.
Sedangkan peluang utama bisnis di Indonesia menurut keyakinan perusahaan adalah perluasan pasar online untuk produk barang dan jasa.
Namun demikian, bisnis Indonesia juga mengalami ancaman nyata. Setidaknya ada tiga ancaman nyata menurut para responden, yaitu situasi politik (36 persen), pesaing baru atau kinerja pesaing (33 persen) dan nilai tukar (26 persen), ujar Dutta.
Menurut survei ini, bisnis di Indonesia yang paling optimistis kedua setelah India dalam soal rencana investasi.
Eksekutif yang disurvei mengatakan perusahaan mereka akan mendanai rencana investasi dari keuntungan yang ada.
“Bisnis di Indonesia akan mengejar berbagai peluang investasi, mulai dari penelitian, inovasi dan teknologi hingga penjualan produk atau layanan online dan dalam program pelatihan,” ujar Dutta.
Konsisten dengan itu, bisnis di Indonesia menunjukkan rencana investasi terbesar dari seluruh pasar.
Tingkat investasi mereka juga berada di posisi tinggi, dengan lebih dari 70 persen mengklaim berencana meningkatkan investasi lebih dari 5 persen di setiap bidang.
--Pentingnya inovasi
Survei tersebut juga menyebutkan bahwa banyak eksekutif perusahaan di Indonesia menganggap inovasi merupakan bagian penting dari bisnis mereka, yaitu "sebagai mesin penggerak pertumbuhan," dan "prasyarat untuk bertahan hidup".
Perspektif ini menurut Dutta juga dikemukakan oleh mayoritas bisnis yang disurvei di India dan Amerika Serikat.
Menurut survei ini, sembilan dari sepuluh pelaku bisnis percaya bahwa inovasi akan mengarah pada kebutuhan untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja.
“Tetapi ini akan membantu tenaga kerja lebih memahami pelanggan mereka dalam jangka panjang.
Sedangkan tantangan utama inovasi bagi bisnis di semua wilayah adalah biaya.
Khusus untuk pasar Indonesia menghadapi tantangan kekurangan tenaga terampil dan investasi di bidang teknologi.
news_share_descriptionsubscription_contact
