Iqbal Musyaffa
06 November 2020•Update: 07 November 2020
JAKARTA
Pengamat ekonomi memperkirakan tensi perang dagang Amerika Serikat dan China kemungkinan mereda apabila Joe Biden memenangi pemilihan presiden.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan kedua calon presiden AS tersebut memiliki kebijakan ekonomi yang berbeda.
Namun Biden mungkin akan lebih lembut, sehingga akan membuat kondisi perdagangan internasional membaik dan ketegangan perdagangan mereda.
“Trump sepertinya masih mengedepankan perang dagang yang memberikan efek besar pada penurunan ekspor kita,” jelas Tauhid kepada Anadolu Agency, Jumat.
Apabila Biden terpilih, kemungkinan bisa mendorong ekspor Indonesia lebih baik lagi ke kedua negara tujuan ekspor utama tersebut.
Selain itu, Tauhid mengatakan ada potensi peningkatan investasi AS ke Indonesia yang saat ini relatif kecil, sebagai upaya meredam agresivitas China di sektor ekonomi.
Sementara itu, para investor asing saat ini masih menunggu kepastian hasil pemilihan presiden di AS sebelum menggelontorkan investasi ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) Budi Hikmat menilai kemenangan Biden cenderung positif bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Sebab kebijakan presiden Trump yang ‘ultra-populis’ selama ini cenderung membuat perekonomian dunia kurang imbang namun berisiko memicu gejolak yang lebih kompleks di masa yang akan datang,” ujar dia.
Budi mengatakan stimulus masif defisit fiskal pada era Trump, terutama pemotongan pajak korporasi yang lebih berpihak kepada kelompok ekonomi atas, telah menyebabkan perekonomian AS relatif paling kuat dibandingkan negara lain.
Sementara stimulus moneter berupa penurunan suku bunga dan penggelontoran likuiditas telah memicu kenaikan harga saham di Amerika Serikat, sekaligus menyebabkan investor enggan masuk ke negara berkembang.
“Selain hasil pilpres AS, market juga menanti solusi penanganan dari wabah Covid-19 di mana saat ini Eropa tengah mengalami gelombang kedua (second wave),” tambah dia.
Walaupun melihat peluang keuntungan di pasar saham apabila Biden menang, Budi mengingatkan investor untuk siaga menyikapi volatilitas terutama yang bersumber dari nilai tukar.
“Sejauh ini investor asing menyukai SBN Indonesia dalam mata uang asing yang relatif aman terhadap risiko nilai tukar,” kata Budi.
Posisi kepemilikan investor asing dalam SBN tercatat sebesar Rp952 triliun dan sudah naik dari posisi terendah Rp917 triliun, namun masih belum kembali melampaui posisi sebelum Covid-19 yang mencapai Rp1.090 triliun.