Iqbal Musyaffa
14 November 2017•Update: 15 November 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Rencana Badan Pusat Statistik (BPS) mensensus penduduk Indonesia tahun 2020 mendatang diperkirakan akan terganjal pola hidup masyarakat yang individualis.
Deputi Kepala BPS Bidang Statistik Sosial Sairi Hasbullah mengatakan saat ini masyarakat semakin mengutamakan keleluasaan pribadi dan individualitas. “Masyarakat cenderung tidak ingin diganggu, termasuk untuk sensus,” ungkap dia di Jakarta, Selasa.
Ia memperkirakan kendala yang akan ditemui ketika sensus nanti adalah sulitnya bertemu responden. Pada hari kerja responden sulit ditemui karena bekerja, begitupun saat akhir pekan masyarakat banyak yang pergi berlibur.
“Makanya kita matangkan persiapan dan kolaborasi dengan banyak pihak dari sekarang,” lanjut Sairi.
Saat ini pihaknya juga terus menggodok formula terbaik metode sensus. Kemungkinan, kata dia, metode wawancara tatap muka akan semakin dikurangi. Metode yang memungkinkan adalah dengan memberi waktu kepada responden untuk mengisi formulir kuesioner dan mengambil hasilnya di lain hari.
Sedang bagi masyarakat yang tinggal di kondominium dengan tingkat keleluasaan pribadi tinggi, BPS akan bekerja sama dengan manajemen gedung tersebut. Kuesioner akan dikirim menggunakan surat elektronik.
“Sensus 2020 kita harus punya cara berbeda dari sebelumnya dan mengikuti perubahan sosial yang cepat,” tegas dia.
Meski begitu, ia berharap masyarakat memiliki pemahaman pentingnya sensus penduduk. Sensus ini bukan sekadar mendata jumlah penduduk, melainkan akan menghasilkan data strategis yang akan menjadi parameter pembangunan dan kebijakan pemerintah. “Jadi data sensusnya harus akurat,” tambah dia.