Hayati Nupus
03 November 2017•Update: 04 November 2017
Hayati Nupus
JAKARTA
Anak menjadi korban paling rentan dari gerakan ekstrem terorisme.
Berdasarkan data Kementerian Sosial, dari 208 deportan dan returnee dari Turki yang telah kembali ke Indonesia sepanjang 2017, sebanyak 74 di antaranya merupakan anak-anak.
Direktur Eksekutif Civil Society Against Violent Extremism (C-Save) Mira Kusumarini mengatakan umumnya anak-anak tersebut mulai terpapar ideologi ekstrem sejak usia 10 tahun.
“Mereka mengalami trauma psikologis dan telah terpapar lingkungan yang berpotensi mengancam keselamatan jiwa, raga dan mental,” ujar Mira di Jakarta, Jumat.
Mereka, ujar Mira, meninggalkan sekolah saat berangkat ke Suriah. Selepas kembali ke Indonesia umumnya orang tua anak-anak tersebut tak mengarahkan mereka ke lembaga pendidikan formal.
Mereka memilih mendidik anak-anak tersebut lewat kegiatan home schooling dengan muatan radikal.
Dampaknya, ujar Mira, anak berperilaku agresif-impulsif, juga cenderung menarik diri dan tak mampu berbaur dengan lingkungan sekitar.
Dampak lainnya, anak yang sempat terpapar ideologi ekstrem kemudian bercita-cita untuk menjadi militan-militan teroris berikutnya.
Seperti yang terjadi pada Hatf Saiful Rasul, putra pelaku bom Poso tahun 2005 Syaiful Anam, yang bercita-cita pergi ke Suriah untuk berperang di usia 11 tahun.
“Dengan mengeksploitasi dan menggunakan kerentanan anak, kelompok teroris berhasil mempersiapkan penerusnya,” kata Mira.
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan pilihan menjadi teroris tak sesuai dengan kebutuhan anak, melainkan berdasarkan pengaruh buruk orang dewasa di sekitarnya.
“Anak jadi korban, orang dewasa pelakunya,” kata dia.
Sedangkan dari sisi yuridis, ujar Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto, pemerintah punya kewajiban untuk memberi pendidikan khusus bagi anak korban terorisme.
Sayangnya, kata Susanto, tak semua penyelenggara negara memiliki fokus ke arah itu.
“Perlindungan khusus belum dijalankan, butuh cara pandang dan komitmen bersama soal apa yang terbaik untuk anak korban terorisme,” kata dia.