02 September 2017•Update: 03 September 2017
Hader Glang
Kota Zamboanga, Filipina
Presiden Rodrigo Duterte telah menarik kembali persetujuannya terhadap militer untuk mengebom masjid-masjid di Kota Marawi.
Presiden mengatakan kepada tentara bahwa pemerintah harus sadar akan implikasi budaya dan ideologis dari pengeboman masjid untuk memerangi teroris Maute di wilayah selatan.
“Kami tidak bisa menghancurkan masjid, karena hanya akan melahirkan kebencian tanpa akhir,” kata Duterte lewat pidatonya di Komando Mindanao Timur di Kota Davao, Jumat, seperti dilansir oleh Rappler.
Konflik bersenjata antara pemerintah dengan kelompok teroris terkait Daesh di Kota Marawi mendorong Presiden Duterte untuk mendeklarasikan undang-undang darurat 60 hari di Mindanao yang pada akhirnya diperpanjang selama lima bulan hingga akhir tahun, yakni 31 Desember.
Berbicara di hadapan ratusan tentara di Davao, presiden mengungkapkan bahwa ia telah mempertimbangkan untuk mencabut undang-undang darurat militer. Meskipun demikian, melihat situasi saat ini, pemerintah memutuskan untuk tetap melanjutkannya.
Duterte juga mengatakan, ia takut akan terjadinya krisis berkepanjangan di Marawi dengan adanya keberadaan pasukan bersenjata di Buldon, sebuah kota di Maguindanao dekat Lanao del Sur.
“Saya berpikir bahwa kita bisa mencabut darurat militer lebih awal, namun tampaknya konflik sudah tersebar ke Wilayah Otonom di Mindanao Muslim,” jelasnya.
Rabu lalu, Duterte memberikan wewenang kepada militer untuk membebaskan Marawi dari sekelompok teroris yang masih menempati beberapa rumah, bangunan, dan masjid, bersama dengan orang-orang tawanan mereka.
Sabtu ini, konflik bersenjata di Kota Marawi memasuki hari ke-104. Saat ini pertempuran terjadi di wilayah yang lebih kecil, namun tentara kesulitan mengamankan bangunan, karena sarat dengan jebakan dan alat peledak improvisasi.
Pihak militer menyebutkan, tiga tentara tewas dan 52 lainnya luka-luka setelah jebakan dan peledak yang dipasang oleh teroris meledak di beberapa lokasi berbeda, pada malam Idul Adha, di Marawi. Lima pejuang Maute juga tewas dalam pertempuran di Jembatan Banggolo.
Peristiwa ini menambah jumlah korban jiwa menjadi 136 jiwa, sejak pertempuran dengan kelompok teroris terkait Daesh dimulai.
Pihak berwenang menyebutkan bahwa 617 anggota kelompok teror tewas bersama dengan 45 warga sipil. Sebanyak 600 tentara luka-luka dan 300 warga masih disandera di masjid oleh kelompok militan.
Pihak militer mengatakan, saat ini mereka sedang melaksanakan langkah terakhir dalam perjuangannya melawan kelompok Maute dan Abu Sayyaf untuk menumpas habis seluruh teroris yang terkait Daesh.
Konflik di Marawi telah menyebabkan lebih dari 200.000 jiwa di Kota Marawi ribuan lainnya dari daerah-daerah terdekat mengungsi.