22 September 2017•Update: 23 September 2017
Canberk Yuksel
NEW YORK
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bertemu Presiden AS Donald Trump hari Kamis di New York, yang menjadi perhatian media massa.
"Kami akan mengadakan pertemuan bilateral dengan kawan baik saya Donald, serta diskusi antara delegasi," kata Erdogan sebelum pertemuan yang dilakukan di sela-sela Majelis Umum PBB. "Saya ingin berterima kasih sekali lagi atas kesempatan ini."
Trump memuji pemimpin Turki itu dan mengatakan bertemunya adalah "sebuah kehormatan - karena dia sudah menjadi kawan baik."
"Dia memimpin bagian dunia yang sulit. Dia sangat terlibat dan dinilai dengan baik. Dia juga bekerja dengan AS," lanjut Trump.
Tidak ada agenda resmi untuk pertemuan itu namun beberapa topik yang diperkirakan akan dibicarakan termasuk hal-hal yang telah merusak hubungan antara kedua sekutu NATO itu. Hubungan kedua negara itu retak karena dukungan AS terhadap kelompok-kelompok yang mereka percaya bisa memerangi Daesh di Suriah, namun dilabel Turki sebagai organisasi teroris.
Trump dan Erdogan diperkirakan juga akan membincangkan masalah yang dihadapi Muslim Rohingya di Myanmar serta ketegangan yang menyelimuti isu Korea Utara menyusul sejumlah uji coba rudal yang mereka lakukan.
Erdogan juga diharapkan mengungkit kemungkinan ektradisi Fetullah Gulen - pemimpin jaringan teror FETO yang dituduh meluncurkan percobaan kudeta terhadap pemerintah Turki pada 2016.
Ankara telah meminta agar Gulen diekstradisi ke Turki untuk menghadapi pengadilan. Departemen Kehakiman AS masih memproses bukti-bukti yang dikirim oleh Turki.
Erdogan akan mengakhiri kunjungan 4 harinya ke New York pada Kamis.