28 Desember 2017•Update: 28 Desember 2017
İlkay Güder
TUNISIA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyelengarakan konferensi pers bersama Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi sehubungan kunjungan resmi otoritas Turki terhadap pemerintah Tunisia yang sah.
Dalam konferensi pers Erdogan mengatakan, Turki dan Tunisia sepakat menyuarakan Yerusalem adalah garis merah "kita" – Yerusalem adalah harga mati "kita" – tidak akan menerima langkah penghapusan status historis dan kesucian Yerusalem yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS).
"Kami akan senantiasa bekerja sama untuk menjaga Palestina sebagai negara yang diakui seluruh dunia, dalam hal ini, sikap negara anggota Uni Eropa sangat penting," kata Erdogan.
--“Assad adalah teroris”
Terkait permasalahan di Suriah, Presiden Erdogan mengatakan bahwa sama sekali tidak akan mau bekerja sama dengan Assad di Suriah.
“Kami sama sekali tidak akan mau berjalan bersama Assad di Suriah. Untuk apa? Bagaimana kami bisa merangkul pemimpin negara yang telah membunuh hampir satu juta rakyatnya? Apakah rakyat Suriah menginginkan pemimpin seperti dia? saya sampaikan dengan terang dan jelas bahwa Assad adalah pemimpin negara yang teroris,” ujar Erdogan.
Erdogan menyebut keberadaan Rusia, pasukan koalisi, dan Turki di Suriah dikarenakan tidak adanya perdamaian disana.
Sebelumnya, AS menyatakan bahwa menyingkirkan Assad bukan menjadi prioritas AS. Menlu AS mengungkapkan masa depan Assad akan diputuskan oleh rakyat Suriah.
Sejak perang sipil merebak di Suriah pada Maret 2011, rezim Bashar al-Assad mulai menindak keras demonstrasi pro-demokrasi. Ratusan ribu warga sipil menjadi korban konflik itu yang melibatkan pasukan koalisi menyerang oposisi. Jutaan lainnya terpaksa melarikan diri dan mengungsi.