Pizaro Gozali İdrus
13 Februari 2018•Update: 14 Februari 2018
Pizaro Idrus
JAKARTA
Indonesia menerima sertifikat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) untuk Pinisi sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda Dunia.
“Ini adalah kebanggaan besar bagi rakyat Indonesia,” ungkap Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat menerima sertifikat dari Delegasi Tetap Indonesia untuk UNESCO Hotmangaradja Pandjaitan di Jakarta, Selasa.
Namun demikian, Menteri Retno mengingatkan penetapan UNESCO ini bukanlah tujuan akhir, tapi hanya sarana untuk mendukung pelestarian budaya nasional.
“Setiap penetapan yang diberikan UNESCO kepada budaya atau kekayaan alam Indonesia perlu diikuti dengan pelestarian yang baik, termasuk penyuluhan kepada masyarakat,” ujar Menteri Retno.
Dengan sertifikat bagi Pinisi ini, Indonesia telah memiliki sembilan Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.
Warisan Budaya Tak Benda lainnya adalah Keris, Pertunjukan Wayang, Batik, Pelatihan Membatik, Angklung, Tari Saman, Noken Papua, dan Tari Bali.
Untuk tahun 2018, lanjut Menteri Retno, Indonesia menargetkan keberhasilan nominasi Pantun yang merupakan nominasi gabungan bersama Malaysia.
Sementara pada 2019, nominasi yang ditargetkan adalah Pencak Silat.
Secara terpisah, Dubes Hotmangaradja Pandjaitan menegaskan kesiapan KBRI Paris untuk terus mengawal proses nominasi Pantun dan Pencak Silat.
“Pengakuan UNESCO terhadap kekayaan alam dan budaya Indonesia adalah dorongan bagi kita untuk selalu merawat alam dan budaya, sekaligus untuk menebalkan rasa cinta Tanah Air,” tegas Hotmangaradja yang juga menjadi Dubes Indonesia untuk Perancis.
Sebelumnya, UNESCO menetapkan Pinisi atau seni pembuatan perahu di Sulawesi Selatan menjadi salah satu Warisan Budaya Tak Benda Dunia pada 7 Desember 2017 di Korea Selatan.