Shenny Fierdha
24 Oktober 2017•Update: 25 Oktober 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian mengatakan dirinya sangat peduli kepada para perempuan yang menjadi korban kasus perkosaan dan kekerasan sosial.
Saya bahkan akan mengeluarkan telegram yang berisi perintah dan arahan kepada seluruh wilayah agar lebih concern dalam menangani masalah perempuan dan anak," kata Tito dalam jumpa pers yang digelar di Jakarta, Senin petang.
Dia mengakui bahwa polisi terkadang harus menanyakan hal yang bersifat privasi yang bertujuan untuk mengungkap motif dan alat bukti dalam kasus pemerkosaan.
"Yang kalau kita tidak tanyakan, justru tersangkanya bisa-bisa lolos," kata Tito.
Pertanyaan bersifat privasi itu, kata Tito, antara lain apakah betul terjadi persetubuhan antara pelaku dengan korban serta apakah ada paksaan atau persetujuan korban terhadap persetubuhan tersebut.
"Kalau dipaksa, itu masuk klasifikasi pemerkosaan," kata Tito.
Khusus untuk menangani kasus kejahatan terhadap perempuan dan anak, lanjut Tito, polisi sudah memiliki unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) di tingkat Polri, Kepolisian Daerah (Polda), sampai ke tingkat Kepolisian Resor (Polres) yang beranggotakan sekitar 7.000 orang polisi wanita (polwan).
Para polwan inilah yang menangani para korban pemerkosaan maupun pelecehan. Mereka dilatih mendekati korban kasus perkosaan dengan empatik, sehingga korban mau bicara terus terang.
"Jangan sampai [pertanyaan polwan] menambah trauma yang bersangkutan," kata Tito.
Pertanyaan yang bersifat privasi tersebut sebab harus dipertimbangkan, kapan dan seberapa perlunya untuk.
"Kalau polwannya tidak pintar dan tidak berusaha membuktikan unsur [pemerkosaan] itu, tersangkanya bisa lepas. Walau, tentu saja, cara menanyakannya sangat situasional," kata Tito.
Selain itu, ia juga menegaskan bahwa pembentukan unit PPA beranggotakan ribuan polwan di kepolisian sejak dulu merupakan bentuk kepedulian polisi terhadap anak dan perempuan korban kekerasan seksual, tak sebatas pemerkosaan.
“Saya sangat peduli,” tandasnya lagi.
Dalam sebuah pemberitaan di portal media online baru-baru ini, Tito dan penyidik kepolisian sempat ramai dibicarakan karena menanyakan kepada korban pemerkosaan apakah ia merasa nyaman ketika aksi kejahatan seksual itu berlangsung.