Shenny Fierdha
27 September 2017•Update: 28 September 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Petani ganja Aceh sebaiknya berhenti menanam ganja dan menanam tanaman lain yang bernilai ekonomis lebih tinggi sebagai penggantinya, kata Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Polisi Budi Waseso di markas BNN, Jakarta, Rabu.
Hal ini ia sampaikan menanggapi maraknya pemusnahan ladang ganja di Aceh yang tersembunyi di pegunungan provinsi tersebut sebagai bagian dari upaya pemerintah memberantas pengiriman ganja ke berbagai daerah di luar Aceh.
"Tidak bisa cuma memusnahkan [ladang ganja], harus diberi solusi lain karena ini menyangkut kesejahteraan mereka," kata Budi.
Mengingat petani ganja Aceh menggantungkan hidupnya pada tanaman bernama ilmiah Cannabis sativa itu, lanjut Budi, mereka harus dibiasakan menanam tanaman seperti cokelat atau tanaman lain yang memiliki nilai ekonomis sama tinggi atau bahkan lebih tinggi dibanding ganja.
"Menteri pertanian atau menteri kehutanan bisa menentukan tanaman pengganti apa yang cocok," kata Budi.
Di samping itu, BNN mengadakan program bernama Grand Design Alternative Development yang bertujuan menurunkan produksi ganja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Aceh tahun 2016-2025.
"Programnya baru di Aceh saja, belum nasional, karena anggarannya terbatas," tutup Budi.
Jika para petani ganja Aceh serius mengikuti program ini, lanjutnya, ia optimis bahwa masyarakat Aceh akan berhenti menanam ganja sehingga reputasi provinsi tersebut sebagai penghasil ganja terbesar nusantara akan terhapuskan.