Iqbal Musyaffa
04 Januari 2018•Update: 05 Januari 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) selaku operator kereta rel listrik wilayah Jabodetabek menargetkan peningkatan penumpang di tahun 2018 menjadi 320 juta penumpang.
Target tersebut lebih banyak 9,5 persen dibanding jumlah yang diangkut pada tahun 2017 yaitu 315,8 juta penumpang.
Direktur Utama PT KCI M.N Fadhila mengatakan pertumbuhan jumlah penumpang kereta api dalam dua tahun terakhir sangat pesat.
“Pertumbuhan penumpang kereta sekitar 22,6 persen atau 58 juta pengguna dalam dua tahun terakhir,” ungkap Fadhila di Jakarta, Kamis.
Dalam upaya mengantisipasi terus bertambahnya jumlah penumpang, Fadhila mengatakan KCI secara bertahap akan terus menambah jumlah rangkaian dengan formasi 12 kereta hingga mencapai 26 rangkaian.
“Selain itu juga akan terdapat 43 rangkaian dengan formasi 10 kereta. Jumlah rangkaian delapan kereta akan berkurang hingga hanya 22 rangkaian,” urai Fadhila.
Fadhila menambahkan untuk memudahkan penumpang, KCI terus melakukan modernisasi sistem e-ticketing.
Pada tahun ini akan ada penambahan 200 unit mesin jual otomatis (vending machine) dan 200 gate yang tersebar di seluruh stasiun.
“Kita juga pada tahun ini meluncurkan vending machine jenis baru yaitu vending machine fare adjustment (mesin penyelaras tarif),” tambah Fadhila.
Seiring bertambahnya jumlah penumpang, Fadhila mengatakan pihaknya telah merampungkan pembangunan enam terowongan penyeberangan orang dan satu jembatan penyeberangan orang untuk membantu penumpang berpindah peron.
“Pada tahun ini kita akan membangun empat terowongan penyeberangan orang di stasiun Duren Kalibata, Pasar Minggu, Universitas Indonesia, dan Depok,” jelas dia.
Kemudian, Fadhilah juga mengatakan telah menyediakan 27 pos kesehatan yang tersebar di beberapa stasiun dan menugaskan 98 orang petugas medis untuk pertolongan pertama saat keadaan darurat di stasiun.
Tak ada lagi denda untuk penumpang yang tidak sesuai tujuan
Penumpang kereta rel listrik Jabodetabek khususnya pengguna tiket harian berkala (THB) yang turun bukan di stasiun tujuan seperti yang tertera pada tiket kini tidak lagi dikenai denda sebesar Rp10 ribu.
Fadhila menjelaskan, saat ini KCI sudah memiliki mesin tiket jenis baru yaitu vending machine fare adjustment (mesin penyelaras tarif).
Dia memaparkan, pengguna THB yang turun di stasiun dengan jarak lebih jauh dari yang tertera pada tiket, kini hanya perlu membayar selisih antara tarif pada transaksi awal dengan tarif yang seharusnya.
Saat ini mesin jenis baru tersebut sudah tersedia sebanyak 26 unit di 25 stasiun.
“Bagi stasiun yang belum tersedia mesin ini, proses penyelarasan tarif bisa dilakukan di loket dan akan dibantu petugas,” jelas dia.
Manfaat lain dari adanya mesin ini, menurut Fadhila adalah saldo minimum untuk pengguna kartu multi trip (KMT) akan berkurang dari Rp13 ribu menjadi Rp5 ribu.
Bagi pengguna KMT yang melakukan perjalanan dengan saldo KMT kurang dari Rp5000, kini sudah dapat melakukan isi ulang saldo di mesin penyelaras tarif tersebut ataupun di loket.
Pengguna KMT yang tidak terdata di gate in atau gate out, ujar Fadhila, juga tidak akan lagi terkena penalti Rp13 ribu. Sekarang cukup dengan melakukan penyesuaian tarif melalui petugas staf stasiun.
“Pemberlakuan kebijakan penyesuaian tarif ini sebagai bentuk peningkatan layanan dari kami,” tegas Fadhila.
Fadhila menyebut mekanisme tersebut sudah diaplikasikan di sejumlah negara yang kereta komuternya telah menerapkan sistem tiket elektronik.
“Dengan ini kami juga berharap pengguna kereta yang memakai THB akan beralih ke KMT,” ujar dia.