Erric Permana
25 September 2018•Update: 25 September 2018
Erric Permana
JAKARTA
Kementerian Komunikasi dan Informatika akan segera menunjuk operator baru untuk mengisi slot orbit 123 derajat bujur timur yang saat ini kosong setelah ditinggalkan satelit Garuda-1.
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pada Senin mengatakan akan memilih perusahaan milik operator dalam negeri untuk mengisi slot tersebut.
"Perusahaan operatornya harus dalam negeri. Saya tidak akan kasih kepada yang berminat operator statusnya perusahaan di luar negeri. Egggak. Harus di dalam negeri," ujar Menteri Rudiantara di Kantor Kementerian Koordinasi Politik, Hukum dan HAM di Jakarta.
Sejauh ini, sebut Menteri Rudiantara lagi, sudah ada lebih dari tiga perusahaan yang berminat mengisi slot orbit 123 derajat bujur timur. Kominfo, sebut dia, akan memilih perusahaan yang dianggap paling mampu secara manajemen dan finansial.
Slot 123 derajat bujur timur mulanya diisi oleh satelit Garuda-1 milik Asia Cellular Satellite, yang dipakai oleh Kementerian Pertahanan dalam sistem pertahanan dan keamanan serta telekomunikasi.
Namun pada 2015, satelit Garuda-1 bergeser keluar orbit. Presiden Joko Widodo lalu memerintahkan Kementerian Pertahanan dan Kominfo mempertahankan orbit tersebut agar tidak diambil alih negara lain dan mencuri data dari Indonesia.
Kementerian Pertahanan lalu menyewa Satelit Artemis milik perusahaan asal Inggris, Avanti Communications Group, sembari menunggu satelit militer baru yang dipesan Kemenhan. Kontrak sewa ini senilai USD30 juta, yang berlaku sejak 2015 hingga 2020.
Pada 2017, dengan tuduhan wanprestasi, Avanti mengajukan kasus ini ke London International Court of Arbitration, dengan tuntutan ganti rugi USD17,08 juta kepada Kementerian Pertahanan.
Pengadilan mengeluarkan putusan yang meminta Indonesia membayar denda sebesar USD20 juta.