Maria Elisa Hospita
28 September 2018•Update: 30 September 2018
Sibel Ugurlu
ANKARA
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu meyakini bahwa kunjungan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan ke Jerman akan membuka "lembaran baru" hubungan bilateral Turki-Jerman.
Erdogan tiba di Berlin pada Kamis untuk kunjungan resmi selama tiga hari untuk meningkatkan hubungan politik dan ekonomi kedua negara.
Selama kunjungannya, Erdogan akan menemui Presiden Frank-Walter Steinmeier dan Kanselir Angela Merkel.
Sementara itu, usai sidang Majelis Umum PBB di New York, Menlu Cavusoglu mengatakan bahwa perjanjian Idlib antara Turki-Rusia adalah "pencapaian Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang juga didukung oleh Iran".
Pada 17 September, Turki dan Rusia menyepakati zona demiliterisasi di Idlib, Suriah. Turki dan Rusia juga menandatangani nota kesepahaman yang menyerukan "stabilisasi" zona de-eskalasi Idlib, di mana tindakan agresi dilarang keras.
Di bawah pakta itu, kelompok oposisi di Idlib akan tetap berada di area kekuasaan mereka, sementara Rusia dan Turki akan melaksanakan patroli bersama di daerah itu untuk mencegah perseteruan baru.
"Semua orang tahu apa yang telah dilakukan Turki dalam menangani migrasi, namun kami perlu menegaskan kembali selama pertemuan bahwa mereka harus lebih sensitif soal pembagian tanggung jawab," ujar Cavusoglu.
"Kami telah menerima dukungan dari semua orang yang kami temui, bahkan dalam pertemuan yang tidak kami ikuti, termasuk [Presiden Amerika Serikat Donald] Trump yang mengapresiasi Turki," kata dia lagi.
"AS telah menghentikan aliran dana ke Badan PBB untuk Pengungsi Palestina [UNRWA]. Turki pun berkolaborasi dengan negara lain untuk mengatasi defisit," tambah Cavusoglu.
Pada 31 Agustus, AS yang merupakan donatur terbesar, menghentikan semua pendanaan ke UNRWA.
UNRWA yang didirikan pada 1949, menyalurkan bantuan bagi para pengungsi Palestina di Jalur Gaza yang diblokade, Tepi Barat yang diduduki Israel, Yordania, Lebanon, dan Suriah.