Hayati Nupus
16 Mei 2018•Update: 17 Mei 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Pemerintah menyebutkan telah memblokir 1.285 akun media sosial sejak aksi bom teroris yang meledakkan tiga gereja di Surabaya, Senin lalu.
Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Donny Budi Utoyo mengatakan akun tersebut berupa 22 forum atau situs sharing, 562 akun Instagram, 301 akun YouTube dan Google Drive, 287 channel Telegram, serta 113 akun Twitter.
“Saat kejadian lebih kami intensifkan,” ujar Donny, dalam diskusi Cegah dan Perangi Aksi Teroris, Rabu, di Jakarta.
Jumlah 1.285 itu, ujar Donny, dari total sekitar 3.000 pengaduan yang diterima pemerintah terkait muatan terorisme di laman maya sejak Senin hingga Rabu pagi.
Di Indonesia, kata Donny, terdapat 143 juta pengguna internet, atau atau 54,68 persen dari seluruh penduduk Indonesia, melebihi pengguna internet di Thailand, Singapura dan Malaysia. Jumlah ini hampir setara dengan total pengguna internet di empat negara di Asia Tenggara.
“Sementara pada saat yang sama propaganda kelompok ekstrem dilakukan di laman maya,” kata Donny.
Donny juga mengatakan tak mudah mengatasi penyebaran muatan ekstremisme di internet. Jika pemerintah hanya bereaksi di hilir, pada tiap kasus yang muncul, gerakan ekstremisme tidak akan habis.
“Harus dari sisi hulu,” ungkap Donny.
Salah satu upayanya, ujar Donny, pemerintah membuka aduan konten, internet sehat, siber kreasi dan bekerja sama dengan berbagai komunitas.
“Teman-teman yang bergelut di riset radikalisme lebih paham, kita minta masukan dari mereka juga,” kata dia.