Muhammad Latief
24 September 2017•Update: 26 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Analisa Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengindikasikan aktivitas vulkanik Gunung Agung terus meningkat dan berpotensi meletus dalam waktu dekat, sehingga pemerintah mengeluarkan imbauan supaya penerbangan menghindari arena Gunung Agung.
“Meskipun operasional penerbangan masih normal,” ujar Kepala PVMBG Kasbani, Minggu.
Peringatan Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) pada Jumat pukul 08.45 terkirim dengan kode warna kuning (yellow), yang berarti adanya peringatan bahaya vulkanik erupsi atau letusan gunung api yang berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan.
VONA sendiri diklasifikasikan dengan kode warna, kuning menandakan area masih aman dilewati. Kode warna akan meningkat menjadi jingga (orange) atau merah (red) bila pemantauan aktivitas vulkanik semakin membahayakan penerbangan.
Jika menilik aktivitas Gunung Agung saat ini, kata Kasbani, letusan bisa terjadi kapan saja.
“Namun, PVMBG maupun seluruh ahli gunung api di dunia belum ada yang mampu memastikan kapan letusan akan terjadi,” ujarnya.
Kasbani pun mengingatkan masyarakat agar tidak memercayai mitos yang menyebutkan gunung setinggi 3.142 meter tersebut meletus pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada malam hari.
“PVMBG melihat tanda-tanda aktivitas gunung api yang terekam secara visual maupun instrumental,” kata dia.
Pengamatan PVMBG, Minggu pada pukul 00.00-06.00 terjadi 109 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 178 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan 13 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
Secara visual terlihat asap kawah putih tipis dengan tinggi 50 meter di atas puncak.
Rekomendasi PVMBG, masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada pada zona perkiraan bahaya, yaitu di dalam area kawah Gunung Agung, di dalam radius 9 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung, dan 12 kilometer ke arah Utara-Timurlaut, Tenggara, dan Selatan-Baratdaya.