Erric Permana
29 Juni 2018•Update: 30 Juni 2018
Erric Permana
JAKARTA
Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengajak pemerintah Indonesia untuk memerangi kampanye hitam yang dilancarkan Uni Eropa terhadap produk kelapa sawit Indonesia dan Malaysia.
Menurut dia, Indonesia dan Malaysia saat ini menghadapi tantangan yang sama lantaran ekspor produk kelapa sawit terancam oleh kampanye negara-negara eropa.
“Mereka mengatakan minyak kelapa sawit dibuat dari hutan yang ditebang pengusaha dan dengan itu dia berdampak buruk pada iklim,” ujar Mahathir di Istana Bogor, Jawa Barat, usai melakukan pertemuan terbatas dengan Presiden RI Joko Widodo pada Jumat.
Mahathir menegaskan produk kelapa sawit yang dimiliki kedua negara tidak berdampak pada lingkungan.
“Di Eropa, negara mereka juga dahulu ditutupi dengan hutan. Tetapi mereka sudah tebang hampir semua hutan mereka. Tidak ada yang membantah, dan kita juga tidak membantah,” tambah Mahathir.
Dia menuding isu kampanye tersebut dihembuskan karena adanya kepentingan persaingan produk.
“Padahal sebaliknya mereka tahu bahwa kelapa sawit ini bersaing dengan minyak mereka dari soybean,” jelas Mahathir.
Indonesia dan Malaysia merupakan produsen terbesar kelapa sawit di dunia. Pada 2017 lalu diperkirakan produksi kelapa sawit Indonesia mencapai 36,5 juta ton, sementara produksi Malaysia mencapai 19,9 juta ton.
Beberapa waktu lalu, Parlemen Eropa sepakat untuk menghapus penggunaan produk kelapa sawit pada 2021 dan bahan bakar alami (biofuel) dengan bahan dasar tanaman – termasuk kelapa sawit – bagi semua negara anggotanya. Parlemen juga sepakat menekan hingga maksimal 7 persen penggunaan sawit untuk sumber energi terbarukan transportasi sampai 2030.
Keputusan ini tak langsung berlaku efektif. Keputusan final nanti masih harus melibatkan negosiasi tripartit antara Parlemen Eropa, Komisi, dan Dewan Menteri Eropa.