Erric Permana
13 November 2017•Update: 14 November 2017
Erric Permana
JAKARTA
Presiden RI Joko Widodo berharap pembahasan antara Myanmar dan Bangladesh mengenai pemulangan (repatriasi) Muslim Rohingya bisa segera rampung.
Pernyataan ini disampaikan Presiden Joko Widodo pada pleno Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-31 yang diselenggarkaan di Manila, Filipina, pada Senin.
“Segera diselesaikan dan diimplementasikan,” desak Presiden di depan kepala negara ASEAN yang hadir.
Dia pun meminta negara-negara ASEAN untuk segera bertindak mengatasi permasalahan yang dialami Muslim Rohingya. Sebab, kata dia, krisis kemanusiaan yang terjadi di Rakhine State, Myanmar, itu telah menjadi perhatian dunia internasional.
“Kita juga tidak dapat berdiam diri,” tegas Joko Widodo.
Untuk mengatasi krisis kemanusiaan ini, kata dia, harus ada kepercayaan dan solidaritas di antara negara anggota ASEAN. Jika semakin lama dibiarkan, akan berdampak pada keamanan dan stabilitas kawasan, termasuk munculnya radikalisme dan perdagangan manusia.
“Kita harus bergerak bersama. Myanmar tidak boleh tinggal diam, ASEAN juga,” tambah Presiden.
Presiden Jokowi juga berharap agar The ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on disaster management (AHA Centre) dapat memperoleh akses secara penuh untuk membantu.
“Kegiatan AHA Centre di Myanmar akan baik bagi Myanmar dan ASEAN,” ucap Presiden.
Di akhir pidatonya, Presiden menegaskan sekali lagi bahwa krisis kemanusiaan di Rakhine State perlu segera diselesaikan.
“Dan akan baik jika ASEAN menjadi bagian penyelesaian masalah. Kita harus buktikan kepada masyarakat kita dan dunia bahwa kita mampu menangani masalah kita,” kata Presiden Jokowi.