Muhammad Nazarudin Latief
12 November 2017•Update: 13 November 2017
Muhammad Nazaruddin Latief
JAKARTA
Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian, Taufik Andrie mengatakan pada Minggu, dari barang bukti yang dilansir polisi, pembakaran markas polisi adalah model serangan terbaru dari kelompok teror di Indonesia.
Sebelumnya, mereka hanya menyerang secara personal, misalnya polisi yang sedang berjaga di pos lalu lintas.
“Mereka menyerang infrastruktur, ini baru,” ujarnya.
Hal ini menunjukan, bahwa kelompok teroris terus mempelajari kelemahan aparat keamanan Indonesia. Saat awal mereka berniat menyerang aparat, mereka memilih aparat yang sedang bekerja seorang diri, atau dalam jumlah minimal di pos-pos yang jauh dari keramaian. Saat itu, mereka melihat itulah kelemahan aparat Indonesia, yaitu sering bertugas sendirian, minim alat alat pengaman bahkan tidak bersenjata.
Serangan ke markas polisi ini juga membuka kelemahan aparat yang lain. Yaitu penjagaan gedung-gedung milik polisi yang lemah.
Polisi seperti menyepelekan keamanan gedung markasnya, padahal di tempat tersebut banyak tersimpan logistik penting, bahkan senjata dan amunisinya.
Polisi, menurut Andrie harus menutup kedua kelemahan yang berhasil diidentifikasi oleh kelompok teror. Misalnya membekali petugas dengan senjata yang memadai atau meningkatkan standar keamanan diri mereka.
Serangan ke markas polisi ini juga memberi semacam peringatan dini agar meningkatkan kewaspadaan pada potensi gangguan keamanan di akhir 2017 dan awal 2018. Biasanya, perayaan Natal dan Tahun Baru merupakan target serangan.
Minggu dini hari, gedung di Kepolisian Resor (Polres) Dharmasraya Sumatera Barat ludes dibakar oleh dua orang tidak dikenal.
Kapolres Dharmasraya, Ajun Komisaris Besar Rudy Yulianto mengkonfirmasi kejadian tersebut dan mengatakan kedua pelaku ditembak petugas saat melakukan penyerangan terhadap polisi.