29 September 2017•Update: 30 September 2017
ANKARA
Ankara dan Moskow sepakat menghormati integritas teritorial Irak dan Suriah, kata Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Kamis.
Pernyataan itu dilontarkannya setelah bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Ankara.
“Kami membicarkan isu-isu regional termasuk Irak dan Suriah dan kami berdua setuju akan integritas teritorial mereka,” kata Erdogan dalam konferensi pers gabungan.
“Sementara itu Turki dan Rusia memastikan tekad kita untuk terus mencoba mencari solusi bagi konflik Suriah,” lanjutnya.
Erdogan juga memberikan pernyataan mengenai referendum tidak sah yang berlangsung di wilayah Kurdi di utara Irak. Dia menekan kejadian itu “tidak sah” di mata Irak dan dunia internasional.
Referendum itu merupakan pemilu tidak sah mengenai wacana kemerdekaan wilayah Kurdi.
Hasil pemilu menunjukkan 93 persen pemilih mendukung kebebasan Kurdi.
Pemerintahan Irak, Turki, AS, Iran serta PBB mengecam pemilu itu dan mengatakan itu akan menganggu upaya melawan Daesh dan menimbulkan ketidakstabilan di area sekitar.
Zona gencatan senjata di Suriah
Putin mengatakan pembentukan zona de-eskalasi di Suriah memberikan “momentum yang signifikan” pada proses Jenewa yang mendukung terlaksakannya perundingan perdamaian antara rezim Suriah dan oposisi.
“Sangat sulit membentuk kerangka zona-zona gencatan senjata itu,” kata Putin. Dia juga menambahkan prestasi itu turut dibantu upaya dan dukungan Erdogan.
Dalam pertemuan di ibu kota Kazakhstan, Astana, pada 4 Mei, negara-negara penjamin – Rusia, Turki dan Iran – mendatangani perjanjian pembentukan zona gencatan senjata Suriah.
Suriah mengalami perang sipil sejak 2011, ketika rezim Assad menindak keras protes-protes pro-demokrasi. Sejak itu ratusan ribu orang telah tewas dalam konflik itu, menurut PBB.
Hubungan bilateral
Putin dan Erdogan keduanya mengatakan pertemuan itu “produktif” dimana mereka bertukar pandangan mengenai politik wilayah, perdagangan dan energi.
Erdogan mengatakan kedua pemimpin sepakat meningkatkan hubungan ekonomi, menyusul peningkatakan volume perdagangan sebesar 22 persen dalam tujuh bulan pertama tahun ini.
Dia mengatakan Turki ingin mendorong volume dagang menjadi USD 100 milyar.
Putin mengatakan jumlah turis Rusia ke Turki tahun ini naik 11 kali lipat dan mencapai angka 2,5 juta sejauh ini.
“Dalam paruh pertama tahun ini, ekspor agrikultur Turki ke Rusia naik 58,7 persen,” tambahnya.
Pada 2 Juni, Perdana Menteri Dmitry Medvedev menandatangani keputusan untuk mencabut larangan terhadap beberapa hasil bumi Turki serta perusahaan-perusahaan Turki dalam bidang pembangunan, teknik dan pariwisata yang diterapkan telah jatuhnya pesawat jet Rusia pada 2015.