Shenny Fierdha
JAKARTA
Polri menangkap delapan orang terduga teroris di Riau pada Rabu dan beberapa di antara para terduga memiliki hubungan keluarga.
"Dari kedelapan terduga, di antaranya ada adik kandung, orangtua, saudara. Sementara masih didalami oleh tim Detasemen Khusus 88 Antiteror apa peran mereka masing-masing," jelas Kepala Bagian Penerangan Satuan Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Komisaris Besar Yusri Yunus dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Awalnya, Kepolisian Daerah Riau dan Detasemen Khusus 88 Antiteror menggeledah rumah pelaku aksi terorisme di Dumai Timur, Riau, yang pada Rabu mencoba menerobos masuk ke Markas Kepolisian Daerah Riau.
Berdasarkan hasil penggeledahan dan keterangan pelaku tersebut, polisi lalu mengamankan kedelapan terduga teroris berinisial HAN, NI, AS, SW, HD, YEP, DS, dan SY.
Sementara itu, Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian Negara Republik Indonesia Komisaris Besar Syahardiantono yang turut hadir dalam konferensi pers mengungkapkan bahwa ada sejumlah barang bukti yang disita dari penggeledahan dan penangkapan itu.
"Di antaranya satu senapan angin, satu plastik paku, sekeping VCD berjudul Umar bin Khatab, satu KTP, dua pisau, beberapa buku tentang jihad dan kelompok teroris Daesh, satu kitab bertuliskan Fadhail Amal, dan satu kitab Al Hakam," ujar Syahardiantono.
Dia menegaskan bahwa polisi masih mendalami jaringan atau kelompok teroris yang diikuti oleh kedelapan terduga.
Pada Rabu pagi sekitar pukul 09.00 WIB, sebuah mobil yang ditumpangi oleh lima orang berusaha memasuki area Markas Kepolisian Daerah Riau.
Empat orang di antaranya lalu keluar dari mobil sambil membawa samurai dan berusaha menyerang polisi yang sedang berjaga.
Keempatnya lalu ditembak mati oleh polisi sementara satu orang lainnya kabur dengan mengendarai mobil dan menabrak seorang polisi yang tewas akibat ditabrak. Kejadian ini juga melukai dua orang polisi dan dua orang wartawan.