Dunia, Analisis

'Nasionalisme vaksin' makin menguat di Eropa

Dunia perlu kerja sama internasional untuk menghindari masalah baru yang muncul, seperti strain baru di bagian dunia yang kurang divaksin

Muhammad Nazarudin Latief  | 23.03.2021 - Update : 24.03.2021
'Nasionalisme vaksin' makin menguat di Eropa Ilustrasi: Vaksin. ( Elyxandro Cegarra - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

Jonathan Fenton-Harvey

Penulis adalah peneliti dan jurnalis yang fokus pada konflik dan geopolitik Timur Tengah dan Afrika Utara, terutama kawasan Teluk.

ISTANBUL

Di tengah perselisihan tentang vaksin Covid-19 antara Uni Eropa (UE) dan Inggris, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada 17 Maret mengatakan [1] bahwa UE mungkin akan menghentikan ekspor vaksin Covid-19 ke Inggris, untuk memastikan kecukupan dosis bagi warganya sendiri.

“Kami melihat puncak gelombang ketiga (Covid-19) mulai terjadi di negara-negara anggota. Kami tahu bahwa kami perlu mempercepat vaksinasi,” kata von der Leyen, merujuk pada kebutuhan menyuntik lebih banyak warga Uni Eropa.

Von der Leyen membuat ancaman serupa pada Minggu [2], mengatakan bahwa jika perusahaan Anglo-Swedia tidak memenuhi kewajiban memasok ke UE, blok tersebut akan menghentikan pengiriman vaksin Oxford-AstraZeneca ke Inggris.

UE sangat mengkhawatirkan kurangnya pasokan dari perusahaan yang lebih memprioritaskan Inggris itu.

Sebelumnya, pada Januari, Oxford-AstraZeneca mengumumkan mereka tidak bisa memasok vaksin ke UE dengan jumlah seperti yang diharapkan pada akhir Maret.

Beberapa pemimpin Uni Eropa sangat frustrasi dengan pengumuman itu, mereka menganggap Oxford-AstraZeneca lebih memilih pasar Inggris daripada mereka.

Kebuntuan komunikasi antara Brussel dan London, mendorong UE mengadopsi lebih banyak kebijakan proteksionis.

Kondisi ini mengikuti hubungan yang semakin memburuk antara keduanya setelah Brexit. [3]

London dan Brussel ingin menjadi yang paling depan dalam upaya vaksinasi global, namun Inggris mencatatkan perolehan yang lebih unggul.

Menurut statistik “Our Word in Data” pada 20 Maret, Inggris telah memvaksinasi 43 persen populasinya, sedangkan UE baru 12 persen.

Inggris menargetkan [4] pada Juni, setiap warga negara akan menerima paling tidak satu dosis suntikan vaksin.

Perdana Menteri Boris Johnson menganggap hal ini sebagai pencapaian yang membanggakan.

Sementara itu, pada 11 Maret, Presiden Dewan Eropa Charles Michel memuji [5] UE, dengan mengatakan bahwa tidak mungkin mengembangkan dan memproduksi beberapa jenis vaksin dalam waktu kurang dari setahun tanpa bantuan Eropa.

Dia juga mengklaim bahwa solidaritas UE telah memberi negara-negara miskin di dalam blok tersebut, akses vaksin, setidaknya untuk dosis pertama.

Namun, persaingan di antara mereka menimbulkan kekhawatiran munculnya "nasionalisme vaksin", yang bisa mengganggu vaksinasi di Eropa maupun dunia.

Negara-negara kaya dicurigai telah menimbun vaksin [6], yang membuat distribusi vaksin menjadi tidak merata di seluruh dunia, terutama negara-negara miskin.

Persaingan lebih lanjut antarnegara yang mempunyai lebih banyak pasokan vaksin bisa memperburuk masalah ini.

Pada Februari, Bruce Aylward, penasihat senior direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menyatakan keprihatinannya atas "nasionalisme" vaksin dan menyerukan kerja sama global lebih besar dalam menghadapi pandemi.

“Apa pun yang membatasi kemampuan untuk mengeluarkan [vaksinasi] akan memengaruhi kemampuan kita mengendalikan penyakit ini dan mencegah munculnya varian baru,” kata dia [7].

“Dunia harus bekerja sama untuk keluar dari ini.”

Bagaimanapun, pandemi ini diperkirakan masih lama akan berakhir, bahkan di Eropa, yang kini sedang melakukan vaksinasi dengan cukup cepat.

Jerman bahkan mengumumkan bahwa gelombang ketiga pandemi [8] telah dimulai, Italia kembali mengalami lock down dan kepala ahli statistik Inggris mengatakan [9] gelombang Covid-19 baru akan terjadi pada musim gugur, meskipun sebagian besar vaksin berhasil diluncurkan di negara itu.

Fakta ini menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 belum jelas kapan berakhirnya.

Terlepas dari pernyataan terbaru von der Leyen, vaksin Oxford-AstraZeneca tampaknya menjadi korban nasionalisme vaksin.

Sebelumnya pada Maret, beberapa negara UE menangguhkan [10] impor vaksin.

Hal ini dilakukan menyusul laporan bahwa beberapa orang di Jerman, Irlandia, dan Norwegia mengalami pembekuan darah setelah disuntik vaksin buatan AstraZeneca.

Terlepas dari kenyataan banyak negara Uni Eropa khawatir terhadap risiko pembekuan darah, namun ternyata hanya terdata satu kasus pembekuan darah yang serius [11] per 500.000 vaksinasi.

European Medicines Agency menyatakan pada 15 Maret [12] bahwa tidak ada bukti vaksin Oxford menyebabkan pembekuan darah secara langsung.

Selama kontroversi ini, Anggota Parlemen Konservatif Inggris Anthony Browne menuduh [13] Uni Eropa mempolitisasi masalah vaksin AstraZeneca, sementara Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab menyebutnya sebagai "Brexit merajuk".

Menteri Kesehatan Italia juga mengatakan bahwa itu adalah "keputusan politik" dari beberapa negara anggota UE dan ketegangan atas Brexit mungkin telah mendorong langkah tersebut.

Ketegangan atas produk vaksin meningkat seiring dengan ketegangan Brexit.

UE meluncurkan [14] proses hukum terhadap Inggris pada 15 Maret sebagai tanggapan atas upaya London memperpanjang masa tenggang Brexit pada impor makanan ke Irlandia Utara.

Namun, pada Januari, UE juga dituduh mencoba menghalangi pengiriman vaksin dari Republik Irlandia ke Irlandia Utara, yang kemudian akan menjangkau seluruh Inggris Raya.

Tuduhan ini dibantah oleh Brussel.

Selain itu, UE mendapat kecaman dari kelompok hak asasi manusia dan pakar kesehatan pada Januari, setelah memberlakukan pengawas pada pelacakan produk vaksinnya, yang mengarah pada tuduhan bahwa UE berusaha membatasi ekspor di luar blok tersebut.

WHO juga mengkritik [15] Uni Eropa, mengatakan bahwa hal ini semakin menghambat kemampuan negara-negara miskin mendapatkan vaksin, sehingga memperpanjang pandemi.

Meskipun Charles Michel mengatakan [16] dia "terkejut" dengan tuduhan yang menyebutkan Uni Eropa menyebabkan nasionalisme vaksin, tapi mereka membela diri bahwa "monitor" untuk melacak produk vaksin ditujukan untuk "melindungi" warganya.

Kebijakan yang menunjukkan bahwa mereka mencoba memberikan perlakuan istimewa kepada negara-negara anggota.

UE masih menuduh [17] Inggris dan AS tidak memberikan dosis vaksin yang cukup ke blok tersebut, dan von der Leyen mengatakan bahwa UE hanya menginginkan “bagian yang adil” dari produk vaksin.

Michel menuduh Inggris memberlakukan larangan ekspor vaksin, yang dibantah Boris Johnson.

"Biar saya perjelas: kami belum memblokir ekspor satupun vaksin Covid-19 atau komponen vaksin," kata Johnson kepada parlemen Inggris pada 10 Maret.

Selain itu, penelitian [18] dari London's Royal Holloway University mengungkapkan bahwa sebagian besar penduduk Inggris lebih suka memprioritaskan vaksinasi publik Inggris terlebih dahulu.

Hal ini menunjukkan bahwa "memprioritaskan kebutuhan nasional" menjadi tren di Barat.

Selain itu, Pfizer juga berupaya mengklaim hak kekayaan intelektual atas vaksin yang dikembangkan bersama BioNTech, untuk mencegah perusahaan lain meniru metode produksi.

Langkah ini akan makin meningkatkan keuntungan perusahaan.

Namun praktik ini dikritik karena memperlambat produksi massal vaksin, dan karena Uni Eropa mendukung kebijakan [19] ini, badan amal seperti Oxfam menuduh [20] hal itu meningkatkan nasionalisme vaksin.

Inggris dan UE memang berusaha menampilkan diri mereka sebagai sosok yang berwibawa dalam memerangi pandemi dengan melakukan kampanye vaksin mereka sendiri, perpecahan semacam itu menciptakan hambatan yang signifikan untuk memerangi pandemi.

Ini menunjukkan pentingnya peningkatan kerja sama internasional untuk menghindari masalah baru yang muncul, seperti strain baru di bagian dunia yang kurang divaksinasi.

* Artikel ini adalah tanggungjawab penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Anadolu Agency.

[1] https://www.reuters.com/article/uk-health-coronavirus-eu/facing-crisis-of-century-eu-threatens-ban-on-covid-vaccine-exports-to-uk-idUSKBN2B91SY
[2] https://www.standard.co.uk/news/uk/ursula-von-der-leyen-astrazeneca-vaccine-blockade-brussels-b925358.html
[3] https://www.aa.com.tr/en/analysis/analysis-why-the-uk-sees-turkey-as-a-crucial-post-brexit-ally/2108631
[4] https://www.standard.co.uk/news/uk/britain-vaccinate-all-adults-by-early-june-b923921.html
[5] https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-eu-michel-idUSKBN2B11YM
[6] https://www.aa.com.tr/en/analysis/analysis-the-consequences-of-global-covid-vaccine-inequality/2131116
[7] https://www.bmj.com/content/372/bmj.n292
[8] https://www.cnbc.com/2021/03/12/germany-declares-a-covid-third-wave-has-begun-italy-set-for-easter-lockdown.html
[9] https://www.independent.co.uk/news/health/covid-cases-autumn-wave-ian-diamond-b1816959.html
[10] https://apnews.com/article/germany-suspends-astrazeneca-vaccine-blood-clotting-0ab2c4fe13370c96c873e896387eb92f
[11] https://patient.info/news-and-features/astrazeneca-vaccine-is-it-safe-and-does-it-cause-blood-clots
[12] https://www.ema.europa.eu/en/news/emas-safety-committee-continues-investigation-covid-19-vaccine-astrazeneca-thromboembolic-events
[13] https://www.channel4.com/news/it-is-not-a-vaccine-war-says-french-mep-veronique-trillet-lenoir
[14] https://edition.cnn.com/2021/03/15/europe/eu-uk-brexit-grace-period-northern-ireland-gbr-intl/index.html
[15] https://www.bbc.co.uk/news/world-europe-55860540
[16] https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-eu-michel-idUSKBN2B11YM
[17] https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-eu-vonderleyen-idUSKBN2B91LX
[18] https://theconversation.com/vaccine-nationalism-will-block-our-path-out-of-the-pandemic-so-how-do-we-resist-our-tribal-instinct-155258
[19] https://www.telegraph.co.uk/business/2021/01/29/eu-threatens-war-time-occupation-vaccine-makers-crisis-spirals/
[20] https://www.youtube.com/watch?v=8I_eY6gY1Qk

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.