Hayati Nupus
14 September 2018•Update: 14 September 2018
Hayati Nupus
BANDUNG
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) optimistis indonesia dapat mencapai target ekspor USD30 miliar sebelum 2025.
Ketua API Ade Sudrajat mengatakan saat ini Indonesia baru menguasai dua persen pangsa pasar dunia.
“Kalau bisa naik menjadi lima persen saja sudah lebih dari USD30 miliar,” kata Ade, Jumat, di Bandung, Jawa Barat.
Ade mengatakan tekstil merupakan sumber devisa ketiga Indonesia, setelah pariwisata dan kelapa sawit.
Tahun ini pemerintah menargetkan ekspor tekstil Indonesia meningkat 8 persen ketimbang tahun lalu.
Saat ini, ujar Ade, pangsa pasar utama tekstil Indonesia adalah Uni Eropa, dengan angka hampir USD800 miliar.
Ade mengakui jika saat ini kebutuhan tekstil dalam negeri masih dipenuhi lewat impor. Dari kebutuhan USD10 miliar dolar, baru USD3 miliar yang terisi produk lokal.
Solusinya, ungkap Ade, API tengah berupaya memperluas investasi industri ini, terutama di Jawa tengah, yang upah minimum regionalnya lebih rendah ketimbang Jawa Barat.
Kementerian Dalam Negeri, kata Ade, juga telah membuka sekolah khusus tekstil berupa akademi hingga tingkat Diploma 2 di Surakarta, Jawa Tengah.
Saat ini pemerintah tengah berunding dengan Uni Eropa lewat EU-Indonesia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), dan berbagai perdagangan bebas lainnya.
Targetnya perundingan dengan EU-Indonesia CEPA akan rampung 2019, sehingga perjanjian tersebut dapat berlaku mulai 2020.
“Nanti akan terbuka jutaan bahkan puluhan juta lapangan kerja tekstil,” menurut Ade.
Saat ini, kata Ade, API tengah menggerakkan kaum muda untuk lebih kreatif dan inovatif memproduksi tekstil. Sehingga ke depan akan lebih banyak produk baru dengan desain fashion kreatif dan inovatif.
Apalagi dengan adanya tren perdagangan daring kaum muda tak perlu memproduksi dalam jumlah besar sekaligus, seperti permintaan pabrik.
Mereka bisa memulainya dengan bahan baku yang ada dan kuantitas produksi lebih sedikit, ujar Ade lagi