Shenny Fierdha
DENPASAR, Bali
Hidup di pengungsian bukanlah soal mudah. Perkara suasana tentu lebih nyaman dan tenang di rumah sendiri.
Di rumah sendiri, tidak akan ada rasa pengap berjejalan dengan belasan, puluhan, atau mungkin ratusan orang lain di atas lantai pengungsian yang dingin, yang hanya beralaskan karpet tipis atau terpal.
Tak ayal kesedihan dan kerinduan akan nyaman pun menjangkit di hati para pengungsi di Bali. Namun, terpuruk dalam duka tak akan pernah jadi jalan keluar.
Bagi para pengungsi, akhirnya tinggal satu atap bersama keluarga lain selama puluhan hari menjadi sebuah kehidupan baru yang harus dinikmati di tengah bencana.
Tuhan memberikan kehidupan baru di tengah bencana, dan hidup baru itu tetap harus disyukuri dan dipertahankan. Setidaknya itu yang diyakini keluarga Wayan Pundo (36) dan Wayan Wentan (27) selama hidup di pengungsian di Banjar Tegading, Desa Antiga, Kabupaten Karangasem, Bali. Keluarga Pundo hanyalah satu dari ribuan keluarga yang mengungsi akibat terkena amuk Gunung Agung.
Pasangan yang baru saja dikaruniai putri kedua ini mencoba menikmati masa-masa hidup dalam pengungsian. Terlebih, putri kedua mereka lahir di tengah ramainya suasana pengungsian.
Kadek Tantri Wulandari, bayi perempuan cantik kelahiran 7 November lalu yang masih merah itu terlelap dalam dekapan hangat sang ibu. Panas matahari yang terik menembus tenda pengungsi, tapi Tantri tak terganggu.
Tantri mungil tampak pulas seolah tidak memedulikan wira-wiri para pengungsi yang lain, termasuk cubitan gemas dari kakak perempuannya Ni Luh Matriasih yang masih berusia tiga tahun.
Seakan baru kemarin, pria berperawakan tinggi kurus itu masih ingat betul kronologi lahirnya putri kedua mereka.
“Saat mau lahir, saya sekeluarga sudah mengungsi. Kami baru seminggu menghuni pengungsian di Desa Sibetan [Kabupaten Karangasem] lalu istri saya mengeluh sakit perut,” kenang Pundo.
Keluarga Pundo mengungsi pertama kali ke Banjar Mantri di Desa Sibetan. Kemudian mereka pindah ke pengungsian di Banjar Tengading, Desa Antiga, tempat mereka sekarang berkumpul.
Sigap menyambut kelahiran anak keduanya, Pundo langsung memberitahukan para relawan yang kemudian mengantar dirinya dan istri ke Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Karangasem.
Beruntung mereka tiba tepat waktu dan Wentan berhasil melahirkan dengan normal dan lancar.
“Berat bayinya 2,7 kilogram. Hanya sehari di Rumah Sakit dan besoknya kami sudah keluar,” kata Pundo.
Tak ada nama tanpa makna. Sebagai kenangan akan masa mengungsi yang sedang dijalani oleh keluarganya ketika bayi mereka lahir, Pundo memberi nama ‘Tantri’ yang diambil dari nama Banjar Mantri, tempat pertama keluarga ini mengungsi.
“Supaya ketika nanti dia sudah besar, saya bisa bilang, 'Tuh, kamu dulu lahir saat kita mengungsi di Banjar Mantri,” gelak Pundo.

Menunggu imunisasi di tengah erupsi
Demi menghidupi istri dan dua anaknya selama di pengungsian, Pundo mencari nafkah dengan bekerja sebagai tukang bangunan dan membantu beberapa proyek pembangunan di sekitar pengungsian Banjar Tengading.
Sementara itu, Wentan membantu sang suami dengan mengumpulkan uang dari hasil menganyam daun pisang yang digunakan untuk sembahyang.
Walau enggan menyebut nominal rupiah yang diterimanya, namun Pundo mengatakan uang itu cukup untuk membantu membeli keperluan sehari-hari keluarganya.
Kendati sudah beberapa bulan menghuni pengungsian, Pundo mengaku tidak kangen akan rumahnya yang berlokasi di Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem.
“Karena semua keluarga besar saya ada di sini. Dan yang penting kami semua aman,” ungkap Pundo dengan rasa syukur.
Meski sudah menikmati dan mensyukuri hidup barunya, namun perkara kesehatan masih rentan menghantui hari-hari para pengungsi.
Seperti yang diakui Pundo, Tantri hingga kini belum juga mendapat imunisasi. Alasannya, petugas kesehatan belum datang ke pengungsian sejak Tantri lahir.
Polisi wanita (polwan) Ajun Komisaris Ni Luh Suwardini dari Direktorat Pengamanan Objek Vital Kepolisian Daerah Bali menyarankan agar Pundo atau keluarga dengan balita mendatangi Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) terdekat untuk meminta petugas datang ke pengungsian agar dapat mengimunisasi Tantri.
Kondisi Gunung Agung yang hingga kini masih menyemburkan abu vulkanik tentu sangat berbahaya bagi kesehatan. Tentunya pengungsi balita lebih rentan dibanding kaum dewasa.
“Kasihan bayinya. Di sini kadang ada abu walau tidak tebal. Terlihat kan abu tipis menempel di atas daun,” kata Suwardini, sambil menunjuk ke pucuk pepohonan.
Pundo dan Suwardini lantas berdiskusi mengenai perihal mendatangkan petugas Puskesmas ke pengungsian. Mendapat arahan dari pihak kepolisian, Pundo tampak senang karena akhirnya Tantri bisa mendapatkan imunisasi di tengah Gunung Agung yang sedang erupsi.