Zehra Nur Duz
29 Agustus 2023•Update: 09 September 2023
ANKARA
Turkiye pada Rabu merayakan Hari Kemenangan yang ke-101 tahun, yang memperingati kekalahan telak tentara Yunani dalam Pertempuran Dumlupinar pada tahun 1922.
Serangan Pukulan Besar – salah satu kemenangan militer terbesar dalam sejarah – dilancarkan oleh militer Turkiye pada 26 Agustus 1922 di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Turkiye modern, dan berakhir pada 18 September di tahun yang sama.
Menurut informasi yang dikumpulkan oleh Anadolu, pemenang Perang Dunia I – juga dikenal sebagai Kekuatan Entente – mendarat di wilayah Turkiye pada tahun 1919, menduduki wilayah yang luas berdasarkan ketentuan Gencatan Senjata Mudros.
Pasukan Prancis menduduki wilayah sekitar Adana di selatan Turkiye, sementara tentara Inggris memasuki wilayah Sanliurfa dan Maras, serta Samsun dan kota Merzifon, Amasya di wilayah Laut Hitam.
Sementara itu, tentara Italia menduduki sebagian besar garis pantai Mediterania, termasuk Antalya dan kota-kota Anatolia di wilayah barat daya lainnya.
Pada 15 Mei 1919, tentara Yunani mendarat di Izmir dengan izin dari Kekuatan Entente, memicu pemberontakan dan kampanye besar-besaran melawan kekuasaan pasukan penjajah di negara tersebut.
Orang-orang Turki tahu bahwa hanya ada dua pilihan menghadapi mereka – menyerah atau berperang – dan mereka telah bersatu sebagai Kuvayi Milliye, atau Pasukan Nasional, untuk menghadapi para penjajah.
Majelis Agung Nasional Turkiye, atau parlemen negara itu, dibentuk di Ankara pada tahun 1920, ketika penjajah memfokuskan kebijakan represif mereka terhadap Ataturk dan rekan-rekannya, sementara Tentara Turkiye bergerak ke front barat.
Tahun berikutnya, tentara Turkiye akan mengusir pasukan Yunani yang maju dalam jarak 70 kilometer dari parlemen negara itu.
Setelah persiapan selama kira-kira satu tahun, panglima tertinggi Turkiye Ataturk melancarkan Serangan Besar pada 26 Agustus 1922 untuk mengusir para penjajah.
Bergerak lebih jauh ke wilayah barat, dia memimpin pertempuran dengan komandan utamanya Fevzi Cakmak dan Ismet Inonu.
Saat fajar tiba, serangan dimulai dengan tembakan artileri ketika tentara Turkiye terus maju merebut Tinaztepe, Belentepe, dan Kalecik Sivrisi di dekat kota Afyonkarahisar, yang akan direbut oleh tentara Turkiye pada 27 Agustus.
Pada malam tanggal 29 Agustus, para komandan melakukan evaluasi terhadap situasi dan mereka setuju untuk bertindak dengan cepat dan tegas.
Ataturk memerintahkan tentara Turkiye untuk pindah ke wilayah Kutahya di arah barat pada 30 Agustus, yang mana langkah itu memberikan pukulan telak terhadap pasukan Yunani di Anatolia.
Setelah kemenangan tersebut, Ataturk, Cakmak dan Inonu berangkat untuk mengusir tentara Yunani yang tersisa dari Anatolia dengan melancarkan serangan di kota Izmir di wilayah pantai Aegea.
“Tentara, target pertama kalian adalah Mediterania. Maju!" seru Ataturk memerintahkan pasukannya, yang bergerak maju dari Kutahya pada 1 September dan membebaskan Izmir pada 9 September.
Dua tahun kemudian, pada 30 Agustus 1924, Ataturk menghadiri upacara peletakan batu pertama Monumen Prajurit Martir Sancaktar.
“Bangsa Turkiye sekali lagi mengukir sejarah dengan pena baja dengan kemenangan yang diraihnya, kekuatan yang ditunjukkannya, dan kemauannya,” ujar pendiri Turkiye dalam pidato yang tetap terukir dalam catatan sejarah.