Nuri Aydin, Muhammet Tarhan, Emirhan Demir
23 Mei 2026•Update: 23 Mei 2026
Para aktivis Armada Global Sumud yang ditahan Israel mengaku mengalami pemukulan, sengatan listrik, dan perlakuan merendahkan selama berada dalam tahanan, namun menegaskan penderitaan mereka tidak sebanding dengan apa yang dialami warga Palestina di Gaza.
Para aktivis internasional yang dibawa ke Bandara Istanbul dengan tiga penerbangan Turkish Airlines setelah ditahan Israel di perairan internasional itu menceritakan pengalaman mereka kepada Anadolu setibanya di Turkiye.
Aktivis asal Kanada Ehab Lotayef memperlihatkan tangannya yang dibalut perban saat menjelaskan dugaan kekerasan yang dialaminya.
Lotayef mengatakan seorang tentara Israel meminta bantuannya untuk menerjemahkan, namun tentara lain tidak menyukai dirinya membantu para aktivis lain.
“Salah satu tentara Israel tidak suka saya memberikan air kepada orang lain. Lalu dia datang dan menusuk tangan saya,” kata Lotayef.
Ia mengaku kehilangan rasa pada tangan yang terluka dan menyebut sejumlah aktivis mengalami kekerasan berat, termasuk patah tulang rusuk.
“Kami dipukuli dengan sangat brutal. Itu bukan tindakan membela diri, tetapi hukuman,” ujarnya.
Aktivis Kanada lainnya, Michael France dari Vancouver, mengatakan dirinya ikut dalam misi kemanusiaan untuk Gaza.
Ia mengaku ditahan bersama sekitar 160 orang di dalam kontainer pengiriman yang dijadikan sel tahanan di kapal penjara.
“Kami tidur di lantai logam kosong di dalam kontainer,” kata France.
France menuduh pasukan Israel menggunakan alat kejut listrik dan granat kejut terhadap para tahanan.
“Kami disambut dengan taser. Granat kejut dilempar setiap dua atau tiga jam pada malam hari untuk membangunkan kami,” katanya.
Ia mengatakan luka di wajah dan kepalanya berasal dari pemukulan berulang, sementara tentara Israel menginjak kaki telanjangnya dengan sepatu bot militer.
Meski demikian, France menegaskan penderitaan mereka tidak dapat dibandingkan dengan kondisi warga Palestina di Gaza.
“Kami bukan pahlawan. Kami hanya manusia yang mencoba melakukan tindakan kemanusiaan di tengah krisis,” ujarnya.
Aktivis Maori asal Selandia Baru Hahona Ormsby juga mengaku mengalami kekerasan selama penahanan.
Ormsby mengatakan dirinya ditendang di bagian sensitif tubuh, diikat ke kursi, dipukul, dan dibenturkan ke dinding hingga terluka.
Ia menduga penampilannya sebagai penduduk asli Maori dan tato tradisional yang dimilikinya menjadi salah satu alasan perlakuan tersebut.
“Rasa sakit saya kecil dibandingkan dengan penderitaan rakyat Palestina di Gaza,” kata Ormsby.
Ia juga mendesak pemerintah di seluruh dunia mengambil tindakan untuk membela rakyat Palestina dan menghentikan apa yang disebutnya sebagai genosida oleh Israel.