12 Juli 2017•Update: 12 Juli 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Pakar komunikasi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Engkus Kuswarno, mengatakan pada Senin (10/7) bahwa Al Jazeera tidak akan mengikuti ultimatum negara-negara Arab yang mendesak Qatar untuk menutup kantor berita tersebut.
Ditutupnya kantor berita internasional yang berbasis di Doha ini merupakan salah satu dari 13 butir tuntutan yang dilayangkan Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Bahrain kepada Qatar.
“Menurut saya Al Jazeera tidak akan melunak. Bahkan mungkin sebaliknya. Reputasi internasional kantor berita ini dipertaruhkan jika gara-gara desakan penutupan kemudian menjadi melunak,” kata Engkus kepada Anadolu Agency.
Engkus mengatakan, alasan di balik desakan ini mungkin disebabkan oleh liputan Al Jazeera yang sering mencakup hal-hal yang dianggap “tabu” atau terlarang oleh negara-negara Arab.
"Keberanian menyampaikan gerakan Ikhwanul Muslimin misalnya seringkali dianggap keberpihakan kepada gerakan teroris.”
Ikhwanul Muslimin merupakan organisasi Islam yang dibentuk di Mesir tahun 1928 oleh Hassan al-Banna.
“Kalau alasannya tuduhan mendukung pemberontak Yaman dan kelompok teroris, ya dianggap tentu bersalah oleh Saudi,” ujarnya.
Engkus menyayangkan hal ini sebab menurutnya “Al Jazeera sudah menjadi rujukan yang kredibel untuk informasi dunia Islam. Citra identitas keislaman cukup melekat pada Al Jazeera. Setahu saya reputasi Al Jazeera sangat baik, cover both side dilakukan dengan baik.”
Sejak awal Juni 2017, keempat negara tersebut memutus hubungan diplomatik dengan Qatar dan menuding Qatar mendukung kelompok-kelompok teroris.
Di akhir Juni, keempatnya mengajukan 13 tuntutan kepada Qatar termasuk mendesak Qatar untuk menutup Al-Jazeera. Qatar diberi waktu lebih dari satu minggu untuk merespons. Qatar telah menunjukkan penolakannya terhadap tuntutan tersebut.