08 Agustus 2017•Update: 09 Agustus 2017
Erric Permana
JAKARTA
Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla menilai perbedaan pendapat di kalangan anggota ASEAN soal Laut Cina Selatan (LCS) adalah hal yang wajar. Apalagi setiap negara memiliki kepentingan sendiri terhadap kehadiran Tiongkok dan Tiongkok juga memegang peranan dalam mempengaruhi anggota ASEAN.
Namun Jusuf Kalla yakin perbedaan pendapat itu tidak akan menimbulkan konflik antar anggota ASEAN sendiri.
“Saya kira Tiongkok juga tidak akan membawa konflik, karena kalau terjadi konflik perdagangan Tiongkok akan masalah, 60 persen perdagangannya lewat Laut Cina Selatan,” ujar Jusuf Kalla di kantornya, di Jakarta Selasa
Jusuf Kalla pesimistis untuk menyatukan perbedaan dalam pertemuan di ASEAN di Filipina tersebut lantaran setiap negara memiliki kepentingan yang berbeda. Meski perbedaan tersebut tidak terlalu besar.
“Memang dalam kasus tertentu, katakanlah kita sama-sama hadapi teroris, masalah ekonomi juga sama, kasus yg kemarin agak berbeda paham, [soal] Laut China Selatan saja,” ujar Jusuf Kalla.
Menurut Jusuf Kalla, Indonesia memiliki sikap untuk mempengaruhi negara lain karena Indonesia memiliki posisi yang cukup kuat di Laut Cina Selatan
“Ya kita ada di perbatasannya, Natuna. Dan di situ kaya akan sumber daya alam, jadi kita juga memperkuat pertahanan kita disitu,” jelasnya.
Sebelumnya dalam pertemuan Menteri Luar Negeri (Menlu) negara–negara ASEAN di Filipina, sempat terjadi perbedaan sikap dalam merumuskan komunike bersama ASEAN menyangkut Laut China Selatan. Laos dan Kamboja bersikap memihak Tiongkok dalam pertemuan tersebut.
Namun, ASEAN pada hari Minggu kemarin mengeluarkan sikap menentang Tiongkok yang membuat pulau reklamasi di kawasan Laut Cina Selatan.