11 Agustus 2017•Update: 12 Agustus 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengidentifikasi dua tantangan baru yang akan dihadapi negara ASEAN. Hal tersebut dinyatakan Presiden Jokowi dalam pidato peringatan 50 tahun ASEAN.
“Tantangan baru tersebut antara lain ancaman terorisme dan kejahatan lintas batas seperti perdagangan obat-obatan terlarang,” kata Presiden Jokowi di Jakarta Jumat.
Menurut Jokowi ancaman terorisme sudah sangat nyata di kawasan ASEAN. Contohnya serangan terorisme di Marawi, Filipina.
“Untuk itu, kita harus bersatu menjaga kerja sama dan memperkuat sinergi untuk memerangi terorisme.
"Jokowi menjelaskan Indonesia sudah menggunakan beberapa strategi dalam memerangi terorisme, diantaranya melalui pertemuan trilateral bersama Filipina dan Malaysia di Manila pada bulan Juni lalu.
Indonesia juga menggagas pertemuan subregional bersama Australia, Selandia Baru, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina di Manado, Juli yang lalu
“Saya yakin dengan kerja sama lebih erat dan kuat, kita bersama mampu melawan ancaman terorisme.”
Hal yang sama juga berlaku untuk memerangi peredaran obat-obatan terlarang.
Sementara itu Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan ASEAN membutuhkan kondisi dan suasana kondusif sehingga bisa pertumbuhan ekonominya bisa tumbuh.
“Tanpa itu, maka sulit bagi negara ASEAN untuk melanjutkan pertumbuhan ekonominya.”
Dengan stabilitas dan perdamaian yang terus terjaga, maka ASEAN diyakini akan terus tumbuh menjadi satu kekuatan ekonomi besar sesuai prediksi dari World Economic Forum yang akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat dunia di tahun 2030 mendatang.