Rhany Chairunissa Rufinaldo
23 November 2020•Update: 24 November 2020
Gulsen Topcu
RIYADH, Arab Saudi
KTT G20 yang diadakan di bawah kepresidenan Arab Saudi berakhir pada Minggu dengan komitmen untuk "era pasca-COVID-19 yang kuat, berkelanjutan, seimbang dan inklusif".
“Kami, para Pemimpin G20, bertemu untuk kedua kalinya di bawah Kepresidenan Saudi, bersatu dalam keyakinan bahwa aksi global yang terkoordinasi, solidaritas dan kerja sama multilateral lebih diperlukan saat ini daripada sebelumnya untuk mengatasi tantangan saat ini dan mewujudkan peluang di abad ke-21 untuk semua dengan memberdayakan masyarakat, menjaga planet, dan membentuk perbatasan baru," bunyi deklarasi KTT.
Menurut pernyataan itu, para kepala negara menyatakan bahwa mereka telah memobilisasi sumber daya untuk menangani kebutuhan pembiayaan segera dalam kesehatan global untuk mendukung penelitian, pengembangan, produksi, dan distribusi diagnostik, terapeutik, dan vaksin COVID-19 yang aman dan efektif.
"Kami tidak akan mengesampingkan upaya untuk memastikan akses yang terjangkau dan setara bagi semua orang, sesuai dengan komitmen anggota untuk mendorong inovasi, " tulis deklarasi itu.
Sementara itu, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz menyerahkan kursi kepresidenan G20 kepada Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte.
G20 dibentuk pada 1999 sebagai ajang pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral pasca krisis keuangan Asia.
Anggota G20 terdiri dari Jerman, Amerika Serikat, Argentina, Australia, Brasil, China, Indonesia, Prancis, Afrika Selatan, Korea Selatan, India, Inggris, Italia, Jepang, Kanada, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Turki, serta Uni Eropa, IMF dan Bank Dunia.
Pada 2008, KTT Pemimpin G20 pertama diadakan dan memainkan peran kunci dalam membantu negara-negara anggota menanggapi krisis keuangan global.