Rıskı Ramadhan
28 Februari 2018•Update: 01 Maret 2018
Ahmet al-Masri
DOHA
Arab Saudi pada Selasa mengulangi seruannya kepada rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk menghentikan serangan terhadap daerah Ghouta Timur yang dikepung.
Seruan tersebut disampaikan dalam pertemuan Dewan Menteri Saudi, yang diketuai oleh Raja Salman bin Abdul Aziz di Istana Al-Yamamah di Riyadh pada Selasa.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis kantor berita resmi Arab Saudi SPA, Menteri Kebudayaan Awwad Saleh al-Awwad menyampaikan bahwa anggota kabinet menyatakan "kekhawatiran mendalam" mereka atas serangan rezim Assad ke Ghouta Timur dan dampak yang diakibatkannya terhadap penduduk sipil di daerah tersebut.
Menurut al-Awwad, anggota kabinet juga meminta rezim Suriah untuk mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan ke daerah tersebut.
Pada Selasa, setidaknya lima warga sipil di Ghouta Timur tewas akibat serangan pasukan rezim ke daerah tersebut, meskipun Dewan Keamanan PBB telah mengadopsi resolusi yang menyerukan gencatan senjata selama 30 hari.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoygu juga menyatakan akan menerapkan "jeda kemanusiaan setiap hari" untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan ke daerah yang terkepung tersebut.
Rumah bagi sekitar 400.000 warga sipil, Ghouta Timur telah berada di bawah pengepungan rezim yang telah melumpuhkan kehidupan selama lima tahun terakhir. Pengepungan juga menghambat akses kemanusiaan ke daerah tersebut.
Dalam delapan bulan terakhir, pasukan rezim telah memperketat pengepungan sehingga pengiriman makanan dan obat-obatan menjadi hampir tidak mungkin dilakukan.
Sejak 19 Februari saja, peningkatan serangan di Ghouta Timur telah menewaskan sekitar 500 orang dan melukai sekitar 1.500 lainnya, menurut pejabat PBB.
Suriah telah dirundung konflik sejak perang sipil meletus pada Maret 2011, ketika rezim Bashar al-Assad menyerang aksi demonstrasi kelompok pro-demokrasi dengan brutal.
Meskipun pejabat PBB mengatakan ratusan ribu jiwa tewas akibat perang sipil tersebut, pejabat rezim Suriah mengatakan jumlah korban hanya sekitar 10 ribu jiwa.