Maria Elisa Hospita
15 Desember 2020•Update: 16 Desember 2020
Ruslan Rehimov
BAKU, Azerbaijan
Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menolak keputusan Amerika Serikat untuk menjatuhkan sanksi terhadap Turki atas pembelian sistem rudal S-400 Rusia.
"Presiden menganggap sanksi sepihak untuk Turki tidak dapat diterima. Sanksi untuk Turki tidak adil, karena beberapa anggota NATO lainnya menggunakan sistem pertahanan udara yang serupa," kata Hikmet Hajiyev, asisten presiden dan kepala kebijakan luar negeri untuk Kepresidenan Azerbaijan, dalam sebuah pernyataan.
Menurut presiden, situasi itu adalah bukti adanya standar ganda.
"Presiden Aliyev yakin bahwa sanksi tidak akan mampu membendung langkah-langkah Turki untuk meningkatkan kemampuan pertahanannya," tambah Hajiyev.
Hajiyev menyinggung soal hubungan kedua negara yang kuat, yang ditunjukkan dengan kehadiran Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan selama parade kemenangan di Azerbaijan pada 10 Desember.
"Kami mengutuk pemberian sanksi ke Turki karena itu adalah standar ganda," kata Kementerian Luar Negeri Azerbaijan dalam sebuah pernyataan, yang juga menyayangkan bahwa AS tidak merespons usulan Turki untuk menyelesaikan masalah ini melalui dialog dan diplomasi.
Kementerian juga menyerukan langkah-langkah penyelesaian masalah yang menyangkut keamanan nasional Turki melalui dialog.
Sanksi AS
Pada Senin, Departemen Keuangan AS memberlakukan sanksi ke Turki atas pembelian sistem pertahanan rudal S-400 Rusia.
Sanksi tersebut, yang berada di bawah Undang-Undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi (CAATSA), menargetkan Industri Pertahanan Turki (SSB.
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa SSB secara sadar terlibat dalam transaksi signifikan dengan Rosoboronexport, entitas ekspor senjata utama Rusia, dengan membeli sistem rudal permukaan-ke-udara S-400.
Sanksi itu di antaranya larangan semua lisensi ekspor AS dan otorisasi untuk SSB, pembekuan aset, dan penangguhan visa Presiden SSB Ismail Demir dan tiga pejabat lainnya.
* Ditulis oleh Burak Bir dan Merve Berker