Maria Elisa Hospita
27 Maret 2019•Update: 27 Maret 2019
Ata Ufuk Seker
BRUSSEL
Pejabat Kementerian Dalam Negeri Turki mengatakan pembagian beban yang adil diperlukan untuk masa depan yang lebih baik bagi masyarakat dan pengungsi di Turki.
"Jika tidak, kita bisa saja menghadapi krisis baru di Turki, Yunani, dan Eropa," kata Abdullah Ayaz, yang mengepalai departemen manajemen migrasi di kementerian, di Brussel.
Ayaz menyebutkan bahwa Turki menampung pengungsi paling banyak di dunia, yaitu hampir 4,8 juta jiwa. Sekitar 3,6 juta di antaranya berasal dari Suriah.
Dia mengatakan ada lebih dari 900.000 pengungsi yang memiliki izin tinggal di Turki dan jumlah itu diperkirakan akan mencapai satu juta jiwa pada akhir 2019.
"Kami memfasilitasi pengungsi dengan akses ke layanan publik dasar, seperti kesehatan dan pendidikan. Kami juga berusaha mengintegrasikan mereka ke dalam pasar tenaga kerja," ungkap Ayaz.
Menurut Ayaz, sekitar dua juta warga Suriah di Turki berada di usia produktif dan proses integrasi mereka ke pasar tenaga kerja tidaklah mudah.
Dia menegaskan bahwa untuk manajemen migrasi yang lebih baik, akar penyebab migrasi harus diselesaikan di negara asal mereka.
Turki menjadi rute utama bagi para migran gelap yang mencoba menyeberang ke Eropa, terutama sejak 2011, ketika perang Suriah meletus.
Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Turki, lebih dari 265.000 migran gelap ditahan di Turki pada 2018.
Suriah telah menderita akibat konflik sejak 2011, ketika rezim Bashar al-Assad menyerang kelompok pro-demokrasi dengan brutal.
Menurut PBB, ratusan ribu warga sipil tewas atau terlantar akibat konflik, terutama oleh serangan udara rezim di daerah-daerah yang dikuasai oposisi.
*Sibel Morrow turut berkontribusi dalam laporan ini