Felix Nkambeh Tih
ANKARA
UNICEF pada hari Kamis memperingatkan adanya peningkatan jumlah anak-anak yang digunakan di zona konflik di seluruh dunia, karena pihak bertikai abaikan hukum internasional yang dirancang untuk melindungi yang paling rentan.
Badan PBB tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa di Nigeria utara dan Kamerun, Boko Haram telah memaksa setidaknya 135 anak-anak untuk menjadi pelaku bom bunuh diri pada 2017.
Jumlah itu hampir lima kali lipat jumlahnya pada tahun 2016.
"Anak-anak menjadi sasaran, terkena serangan dan kekerasan brutal di rumah, sekolah dan tempat bermain mereka, '' kata Manuel Fontaine, Direktur Program Darurat UNICEF.
''Dalam konflik di seluruh dunia, anak-anak telah menjadi sasaran garis depan, digunakan sebagai perisai manusia, terbunuh, cacat dan direkrut untuk bertarung. Pemerkosaan, perkawinan paksa, penculikan dan perbudakan telah menjadi taktik baku dalam konflik dari Irak, Suriah dan Yaman, ke Nigeria, Sudan Selatan dan Myanmar, '' kata pernyataan tersebut lagi.
''Di Somalia, 1.740 kasus perekrutan anak dilaporkan terjadi dalam 10 bulan pertama tahun 2017, '' tambahnya.
Menurut UNICEF, kekerasan telah memaksa 850.000 anak-anak untuk meninggalkan rumah mereka, sementara lebih dari 200 pusat kesehatan dan 400 sekolah diserang di wilayah Kasai di Republik Demokratik Kongo pada tahun 2017.
Badan ini memperkirakan bahwa 350.000 anak-anak menderita malnutrisi akut di wilayah yang sedang berperang.
Di Sudan Selatan, lebih dari 19.000 anak telah direkrut menjadi anggota angkatan bersenjata dan kelompok milisi bersenjata, dan lebih dari 2.300 anak-anak terbunuh atau terluka sejak konflik tersebut pertama kali meletus pada Desember 2013, kata UNICEF.
'' Di Yaman, hampir 1.000 hari pertempuran menewaskan setidaknya 5.000 anak-anak, menurut data yang diverifikasi, dengan jumlah sebenarnya diperkirakan akan jauh lebih tinggi. Lebih dari 11 juta anak membutuhkan bantuan kemanusiaan. Dari 1,8 juta anak-anak yang menderita kekurangan gizi, 385.000 orang menderita gizi buruk dan berisiko meninggal jika tidak segera ditangani, "tambahnya.
Pernyataan tersebut selanjutnya mengatakan bahwa di Afghanistan, hampir 700 anak terbunuh dalam 9 bulan pertama tahun ini.
'' Di Republik Afrika Tengah, setelah berbulan-bulan dalam pertempuran, ada peningkatan dramatis jumlah anak-anak yang dibunuh, diperkosa, diculik dan direkrut oleh kelompok bersenjata, '' tambah pernyataan UNICEF lagi.
news_share_descriptionsubscription_contact

